Sunday, November 9, 2008

From "Tea for Two"

Cinta pada pandangan pertama.
Ketika kau melihat seseorang yang completely stranger, tapi sekonyong-konyong kau merasa bumi berguncang, langit terbelah, dan hatimu porak poranda. Seakan-akan dia pecahan dari kehidupanmu yang baru kau temukan.
Cinta yang datang secara bertahap.
Cinta yang datang perlahan, halus bergerak seperti sayap kupu-kupu bergetar lembut di dadamu.

From October Road ...

"... My wife didn't give me daughters... so I just have to be worried about my two sons here, not thousand boyz out there ... " (glek! segitu scarry-nya ya ....)

Denzel .... Denzel ....

"..... Dan saya rasa waktunya telah tiba bagi kehadiran aktor James Bond berkulit hitam." Daniel Craig. (Denzel, my rock ... he he ...)

the first dog candidate ...

Selain persiapan memasuki kantor baru di Gedung Putih, Presiden AS terpilih Barrack Obama juga tengah mempersiapkan sesuatu yang berharga sebagai pemenuhan 'janji kampanye'nya untuk keluarganya, yakni kandidat first dog. Pada konferensi pers pertama setelah pemilu pada Jumat (7/11), tim suksesnya mengatakan, pemilihan first dog menjadi isu utama administrasi rumah tangga Gedung Putih dan isu tersebut menjadi pembahasan seru dalam situs Obama.
"Kami punya dua kriteria yang harus dipertimbangkan. Pertama, Malia itu terkena alergi sehingga anjing itu mestinya hypoallergenic. Sisi lainnya, kami juga ingin mengadopsi anjing dari tempat penampungan, tetapi kebanyakan anjing di sana berasal dari ras campuran seperti saya," ujar Obama.
(Hmmm ... bukan mo nyama2in ama Obama ... tapi isu anjing peliharaan kebetulan sdg jadi topik seru di rumah. Terutama Anggas, yang sekitar 2 minggu lalu aku janjiin boleh pelihara anjing saat dia sudah bisa bertanggung jawab penuh atas piaraannya. Dan kelas satu es em pe adalah satu janji yang membuat dia berbinar2 dengan tiada hari tanpa pertanyaan : Dedek kelas satu es em pe masih lama enggak sih? Makanan anjing tu apa saja ? Dikandangin di mana entar ? Gimana cara mandiinnya ?
Well, Yangkung emang dokter hewan ... tapi sori Say... mama bukan anggota kelompok penyayang binatang ... bahkan kucing di kos2an mama dulu selalu gemeter setiap berpapasan ama mama ... hi hi ... krn begitu seringnya mama tendang ...(hih, horor ga sih mama ni ? he he ...) So, siapin nama buat your first dog candidate aja dulu ya Chayank, soal kelas satu es em pe, que sera sera aja deh ... )

Barack's Rock

She's the one who keeps him real, the one who makes sure running for leader of the free world doesn't go to his head. Michelle's story.

Michelle ObaObama was never much interested in calling attention to herself. As an undergrad at
Princeton in the 1980s, she was interested in social change, but didn't run for student government. Instead, she spent her free time running a literacy program for kids from the local neighborhoods. At Harvard Law, she took part in demonstrations demanding more minority students and professors. Yet unlike another more prominent Harvard Law student who would later take up the cause, she was not one to hold forth with high-flown oratory about the need for diversity. "When [Barack Obama] spoke, people got quiet and listened," recalls Prof. Randall Kennedy. "Michelle had a more modest, quieter, lower profile." Barack won election as president of the Law Review. Michelle put her energy into a less glamorous pursuit: recruiting black undergrads to Harvard Law from other schools. For her, politics wasn't so much about being inspirational as it was being practical—about getting something specific done, says Charles Ogletree, one of her professors. "She was not trying to get ahead."

She no longer has the luxury of keeping a low profile. Now a very public figure, Michelle has accepted the role of aspiring First Lady and the sometimes uncomfortable scrutiny that comes with it. On the campaign trail, she is sometimes slated as the opening act, introducing Barack to the audience. Direct and plain-spoken, with an edgy sense of humor uncommon in a political spouse, she complements her husband's more grandiose style. She can be tough, and even a little steely, an attitude that stems, at least in part, from wanting to live up to the high expectations her father set for her. She wants to change the world, but she also wants to win this thing now that they're so deeply invested. If his loftiness can set him apart from the crowd, her bluntness draws them in. Standing up before large audiences wasn't easy at first. "I've never participated at this level in any of his campaigns," she told NEWSWEEK last week. "I have usually chosen to just appear when necessary."
placeAd2(commercialNode,'bigbox',false,'')
From the beginning of the campaign, Michelle made it clear to her husband that she would give the effort her all ("We need to be in there now, while we're still fresh and open and fearless and bold," she told Vanity Fair last December), but not at the expense of family life. At two meetings with the candidate and his political aides shortly before he announced his intention to run, she grilled them about particulars, practical concerns that had nothing to do with his sweeping themes of "hope" and "change." What demands would the campaign place on their lives? Where would the money come from? Could they really take on the Clinton machine and win, or was this just an extended ego trip? "She didn't want Barack to launch some kind of empty effort here," says senior strategist David Axelrod.
Michelle also raised concerns about her husband's safety. It was one of the first questions her own family had asked her when she first aired the possibility of running. He would soon be assigned Secret Service protection very early in the campaign, in response to the huge crowds he was drawing and threatening e-mails. Michelle, who now has a security team of her own, does not like to discuss the possibility of Barack's getting hurt. "We are grateful the Secret Service is a part of it," she told NEWSWEEK last summer. "I'm probably more grateful than Barack, who loves to live a very normal life. This is the first sign that our lives aren't normal."
At the meetings, Axelrod and the other aides addressed each of Michelle's questions. "Suffusing these discussions was, if we did it, she and he both wanted to make sure it was consistent with who he is and what he thinks, and wouldn't distort that," says Axelrod. She has expressed fears that the nastiness of presidential politics could wind up sucking the idealism out of her husband, leaving him just another soulless, cynical Washington pol. "Michelle has always been in the camp of, 'Let's not forget what we're fighting for'," Axelrod says. After the meetings, Michelle gave Barack her blessing (Newsweek).

michelle my rock (2)

Michelle LaVaughn Robinson (47) pernah mempertanyakan Barack Obama ketika suaminya itu hendak mencalonkan diri sebagai presiden AS. Katanya, bagaimana mereka bisa menggalang dana untuk membiayai kampanye Obama karena Michelle tak ingin Obama melakukan usaha yang hasilnya nihil.
Menurut Michelle, bukan hal mudah untuk mendapatkan dana kampanye. Tidak mungkin juga mereka hanya mengandalkan mesin uang mantan presiden dari Partai Demokrat, Bill Clinton. Tidak hanya uang, persoalan keamanan menjadi bahan pemikirannya.
Meski begitu, sejak awal kampanye Michelle berupaya sekuatnya untuk memberi dukungan kepada Obama. Michelle menyewa satuan intel saat di tengah massa, sebagai antisipasi akan kemungkinan Obama terluka.
”Saya mungkin lebih bersyukur ketimbang Barack, yang mencintai kehidupan normal. Kekhawatiran ini adalah tanda-tanda awal bahwa kehidupan kami mulai tidak normal,” ujar Michelle.
Untuk mengakhiri perjuangan yang telah dimulai, Michelle turut berorasi di depan pendukung mereka. Daya tarik Michelle adalah, menurut majalah Newsweek, dia mampu mendatangkan massa setidaknya 1.000 orang lebih secara rutin, termasuk saat hanya berkampanye sendirian. Dia bepergian dari satu wilayah ke wilayah lain untuk memberi pidato dan berbagai kegiatan.
Michelle muncul sebagai figur publik, menerima peran sebagai calon first lady yang mengaspirasi. Saat berkampanye, lulusan Universitas Princeton dan Harvard Law School ini terkadang dijadwalkan memberi pidato pembuka memperkenalkan Obama kepada massa.
Perempuan kelahiran 17 Januari 1964 ini tidak hanya duduk santai pada sesi-sesi strategis. Ia memanfaatkan waktu untuk menggalang dana lewat telepon meski sesungguhnya ia tak menyukai pekerjaan tersebut. ”Aku benci penggalangan dana, benciii... benci!,” ujarnya.
Banyak pihak mengagumi pembawaan dirinya. Sifatnya yang rendah hati dan kalem dipadu dengan kepercayaan diri yang kuat dan kecerdasan yang mantap. Cara berpakaiannya pun sangat sesuai. Karena itu, Vanity Fair memasukkannya dalam 10 perempuan berbusana terbaik. Gaya berpakaian Michelle disejajarkan dengan istri Presiden Perancis Nicolas Sarkozy, Carla Bruni; eksekutif kosmetik Evelyn Lauder; serta artis Sarah Jessica Parker.
Majalah People juga menobatkan anugerah serupa kepada Michelle, bersama peraih Piala Oscar, Gwyneth Paltrow dan Charlize Theron.
Di luar itu, Obama kerap memperkenalkan Michelle sebagai ”My Rock”, seseorang yang menjaga dirinya tetap fokus dan membumi. Michelle berusaha meyakinkan Obama untuk tetap menjaga setiap hal riil.
Pembicaraan mereka di telepon tidak lagi seputar hasil polling kampanye, tetapi tentang anak-anak, Malia Ann (9) dan Natasha (7). Michelle berusaha selalu mengingatkan Obama untuk tidak kehilangan kehidupan normalnya. Ketika pulang, Obama diingatkan untuk menghadiri rapat orangtua murid di sekolah.
Michelle membelikan dua laptop, satu untuk Obama dan satu lagi untuk anak-anak, sehingga mereka dapat bercakap-cakap lewat video internet.
Keduanya bertemu tahun 1989. Saat itu Michelle mendapat mentor Barack Obama, seorang yang saat itu dianggap istimewa oleh banyak orang. Michelle semula tak tertarik cerita di kantor tentang mahasiswa hukum Universitas Harvard, yang olehnya dikenal sebagai ”pria berkulit hitam yang selalu berbicara tepat sasaran”.
Obama begitu percaya diri saat mendekatinya dan berkata, ”Saya rasa kita harus berkencan.” Michelle menolaknya karena merasa ajakan tersebut belum patut. Namun, pertahanan Michelle berakhir setelah Obama mengajaknya untuk pergi ke kegiatan kelompok di gereja.
Dia kemudian memastikan bahwa dirinya menyukai Obama. ”Dia benar-benar berbeda. Saya suka menikahi seseorang yang memiliki pemikiran mendalam mengenai berbagai hal,” katanya.
Obama berkomentar mengenai Michelle, ”Selama 14 tahun bersama, dia melatih saya dengan sangat baik,” kata Obama, sebagaimana dituliskan dalam buku berjudul Ebony, ”The Hottest Couple in Amerika”, yang ditulis Lynn Norment tahun 2007. (Irma Tambunan)

michelle my rock (1)

The article by Kevin O'Leary explains, "How the woman who first refused to date Barack Obama became what he calls, 'My life, my rock, my foundation.''
Obama told the magazine: "Michelle is an extraordinary mother to our two girls. When we started out on this campaign, we wanted to make sure that life for our girls would remain as normal as possible, and it is because of Michelle that they are so grounded.
" Nothing is more important to Michelle than being a good mother,'' the senator from Illinois told the magazine, "and she works every day to instill in our girls the same values we were raised with."

She shops at Target, loved Sex and The City and never miss the gorl's recitals (US Weekly)

Mc Cain's speech

Pahlawan perang Vietnam itu—bahkan sempat lima tahun dijebloskan ke penjara sebagai tahanan perang di Vietnam—John McCain (72), harus merasakan kekalahan. Ia harus mengakui kehebatan ”anak muda”, Barack Obama (47), yang belum pernah merasakan dan mengalami hebatnya perang.
Pengalaman politiknya pun jauh lebih panjang dan matang dibandingkan dengan Obama. Ia memenangi kursi Kongres pada tahun 1982 dan empat tahun kemudian menduduki kursi Senat. Tahun 2000 ia pernah bertarung melawan George W Bush untuk merebutkan nominasi sebagai kandidat presiden dari Partai Republik.Setelah gagal mengalahkan Bush, ia kembali ke Senat. Kemudian, ia bertarung melawan Obama setelah mengalahkan para nominator dari Partai Republik untuk memperebutkan kursi presiden.Akan tetapi, kenyataan berkata lain. McCain harus menyimpan dalam-dalam mimpinya untuk menjadi orang nomor satu di AS, satu-satunya negara adidaya di dunia ini. Ia harus mengakui keunggulan Obama.
”Kita telah sampai pada akhir perjalanan panjang,” katanya dalam pidato pengakuan kekalahan, beberapa hari lalu, seperti disiarkan CNN. ”Rakyat Amerika telah berbicara (memilih) dan mereka berbicara secara jelas.” Rakyat Amerika telah menjatuhkan pilihan dan pilihannya itu Obama.
Sebelum berpidato di hadapan para pendukungnya di Arizona, ia menelepon Obama: mengakui kekalahan dan mengucapkan selamat.Ia melanjutkan pidatonya, ”Apa pun perbedaan kita, kita semua adalah orang Amerika. Saya desak semua warga Amerika yang mendukung saya untuk bersama saya tidak hanya memberikan selamat kepada dia (Obama), tetapi menawarkan kepada presiden kita mendatang kehendak baik kita dan usaha yang sungguh-sungguh untuk bersama-sama mencari jalan, berkompromi, menjembatani perbedaan kita, dan membantu memulihkan kemakmuran, mempertahankan keamanan kita dalam dunia yang berbahaya ini, dan mewariskan kepada anak cucu kita sebuah negara yang lebih baik dan lebih kuat dibandingkan yang kita warisi.”McCain melanjutkan pidatonya, ”Kalau sekarang ini kita kalah, itu bukan kegagalan Anda semua, tetapi kegagalan saya!” Dan disambut oleh pendukungnya "Tidak ..... !" Beberapa kali ia harus menenangkan pendukungnya yang berteriak "Booooo ...!" dengan mengucapkan "Please ...please ..."tiap kali ia menyebut nama Obama.
McCain mengakhiri pidatonya dengan mengatakan, ”Malam ini sangat berbeda dengan malam-malam sebelumnya, tidak ada dalam hati saya kecuali kecintaan saya kepada negeri ini dan kepada seluruh warga negaranya, apakah mereka mendukung saya atau Senator Obama. Saya mendoakan orang yang sebelumnya adalah lawan saya semoga berhasil dan menjadi presiden saya.”

Belajar dari "Dewey defeat Truman"

Enam puluh tahun lalu, tepatnya 3 November 1948, judul ”Dewey Defeat Truman” (Dewey Kalahkan Truman) itu diturunkan sebagai berita utama Chicago Daily Tribune seusai pemilu presiden AS. Pada kenyataannya, pemenang pemilu presiden itu adalah Harry Truman (Demokrat), bukan Thomas E Dewey (Republik).
Hingga 60 tahun kemudian, berita yang ditulis Arthur Sears Henning itu masih menjadi pelajaran paling diingat oleh kalangan wartawan dalam meliput dan memberitakan pemilu presiden. Itulah bahayanya jika ingin menjadi yang pertama menyiarkan berita besar tanpa mengetahui kepastian dan akurasi beritanya.
Mengapa bisa sampai turun berita semacam itu? Lewis Kramer dalam situs HistoryBuff.com menyebutkan, ada beberapa faktor yang membuat berita salah itu tercetak.
Penghitungan suara berjalan lambat dan surat kabar itu dikejar deadline untuk terbit. Berdasarkan hasil penghitungan awal, kata Kramer, staf yang bertugas ”merasa” Dewey akan menang.
Setelah surat kabar dicetak dan mulai didistribusikan, hasil penghitungan menunjukkan perolehan Truman makin mendekati Dewey. Bisa ditebak, hasil akhirnya adalah kemenangan Truman.
Para pegawai Chicago Daily Tribune harus dikerahkan untuk mendapatkan kembali surat kabar dengan berita salah itu. Ribuan eksemplar berhasil ditarik, tetapi banyak juga yang sampai ke tangan pembaca.
Sebelah mata
Begitu yakinnya para wartawan, politisi, dan pengamat akan kemenangan Dewey membuat mereka memandang Truman sebelah mata. Padahal, Truman adalah incumbent, yang sedang menjabat presiden menggantikan Franklin D Roosevelt yang meninggal sebelum masa pemerintahannya berakhir.
Truman juga bertanggung jawab atas keputusan penting untuk mengakhiri Perang Dunia II dengan menjatuhkan bom di Jepang. Dia juga membuat Doktrin Truman untuk memberikan bantuan kepada Turki dan Yunani sebagai bagian dari politik pembendungan.
Akan tetapi, publik dan media seakan-akan memusuhi Truman. Mereka menyebut Truman ”lelaki kecil” dan tidak layak. Barangkali penyebab utama ketidaksukaan terhadap Truman disebabkan dia tidak seperti Roosevelt yang mereka cintai.
Di lain pihak, Dewey masih terhitung muda, menyenangkan, dan hanya kalah dengan selisih kecil dari Roosevelt dalam pemilu tahun 1944. Banyak pihak yakin Dewey akan menang mudah, bahkan dengan kemenangan mutlak.
Rupanya Truman tak gentar. Dia bekerja keras membuat pemilih keluar dan melihat dia. Dalam enam pekan, dia telah berkeliling sejauh 51.200 kilometer dan berpidato 355 kali. Slogan kampanyenya sangat terkenal, ”Give ’em Hell, Harry!” (Beri Mereka Neraka, Harry!).
Sebaliknya, merasa di atas angin, kubu kampanye Dewey memutuskan untuk berkampanye biasa-biasa saja. Bahkan, begitu yakinnya kubu Republik, mereka sedikit sekali berkampanye.
Mendekati pemilu, jajak pendapat menunjukkan Truman bisa menghentikan laju keunggulan Dewey. Namun, semua media tetap yakin Dewey akan menang mutlak.
Tidak tahu
Hari Selasa, 2 November 1948, Truman dan keluarganya memberikan suara di Independence, Missouri. Dia kemudian menuju Excelsior Springs dan menghabiskan malam dengan menunggu hasil pemilu.
Saat malam bergulir, Truman telah memimpin dalam perolehan suara pemilih (popular votes). Kendati begitu, para wartawan masih yakin Truman tidak memiliki kesempatan.
Truman tidur lebih awal malam itu dan mengetahui bahwa dia telah kalah dalam pemilu. Keesokan harinya, dia bangun dan akhirnya tahu bahwa dia menang.
Truman mendapat 24.179.347 suara (49,6 persen) dan 303 electoral votes dari 28 negara bagian. Adapun Dewey memperoleh 21.991.292 suara (45,1 persen) dan 189 electoral votes dari 16 negara bagian. Dewey akhirnya mengakui kekalahan dari Truman.Dalam perjalanan ke St Louis, dia disuguhi satu edisi Chicago Daily Tribune dengan judul ”Dewey Defeat Truman” itu. Saat itulah sebuah foto surat kabar paling terkenal abad ini diambil, yaitu ketika Truman mengangkat koran tersebut.

KFC's Secret Recipe : Guarding the DNA

ADA berita ringan dari KFC yang cukup mencuri perhatian saya awal September lalu. KFC saat itu sedang merencanakan untuk memperbaharui sistem pengamanan di lokasi penyimpanan aset paling berharganya: resep asli dari Kolonel Harland Sanders. Karena itu, resep asli yang disimpan di situ untuk sementara dipindahkan ke tempat lain agar tetap terjaga keamanannya.
Inilah untuk pertama kalinya—setelah beberapa dasawarsa—resep yang langsung ditulis tangan oleh Kolonel Sanders itu dikeluarkan dari ruang penyimpanannya di kantor pusat KFC. Relokasi sementara ini dilakukan agar karyawan perusahaan sistem pengamanan yang ditugaskan KFC bisa lebih leluasa bekerja tanpa harus mengusik rahasia terpenting KFC tersebut.
Resep ini sendiri ditulis pada sehelai kertas yang warnanya sudah kekuningan karena dimakan usia. Di dalamnya terdapat 11 jenis tanaman dan rempah-rempah, termasuk takaran bahan yang harus diracik. Resep ini ditulis dengan menggunakan pensil dan ditandatangani oleh Sanders.
Selain resep itu, di dalam ruang penyimpanan juga terdapat sejumput contoh tanaman dan rempah-rempah yang disimpan dalam botol kecil dengan bau yang sangat khas.
Sanders mulai mengembangkan resep ini pada tahun 1940 di restoran kecilnya di bagian Tenggara Kentucky. Ia kemudian menggunakannya sebagai resep standar yang harus digunakan pada setiap restoran ketika mulai meluncurkan jaringan KFC pada awal 1950-an.
Saking pentingnya rahasia yang sudah berumur 68 tahun ini, tidak setiap orang di KFC bisa mendapatkan akses ke ruang penyimpanan tadi. Dalam satu waktu, hanya ada dua orang saja yang punya akses ke tempat itu. Nama dan jabatan kedua orang ini juga hanya diketahui oleh segelintir orang.
Selain itu, untuk menjaga kerahasiaan dari sisi pemasok, KFC menggunakan banyak pemasok untuk mensuplai materi ramuan resep itu. Namun, masing-masing pemasok tersebut hanya mengetahui sebagian saja dari keseluruhan isi ramuan.
Banyak orang yang telah mencoba meniru resep rahasia dari Kolonel Sanders yang meninggal pada tahun 1980 ini. Kadang-kadang malah ada yang mengklaim telah menemukan salinannya. Namun KFC selalu mengatakan bahwa tidak ada satu pun yang mendekati resep aslinya.
Resep ini memang merupakan “nyawa” dari KFC. Resep ini merupakan “DNA” dari KFC.
Resep rahasia Kolonel Sanders inilah yang membuat KFC mampu membedakan dirinya dari jaringan restoran lainnya yang sama-sama menyajikan menu utama dari ayam. Ini mirip dengan ramuan Merchandise 7X dari Coca-Cola. Rasa dan sensasi menikmati ayam goreng KFC dan minuman Coke akan terasa berbeda dibanding dengan kepunyaan pesaing karena adanya “DNA” ini.
Inilah yang sebenarnya dicari pelanggan. Pelanggan menginginkan adanya otentisitas dari produk atau layanan kita, di mana saja dan kapan saja mereka mengonsumsinya. Jika pelanggan mempersepsi offering kita sebagai tiruan atau palsu, maka kita akan kehilangan kredibilitas, pelanggan, dan pada akhirnya penjualan (sales).
Jadi, otentisitas menjadi salah satu kata kunci dalam era New Wave Marketing.
Otentisitas ini sendiri ada bermacam-macam jenisnya. Dalam bukunya Authenticity yang diterbitkan Harvard Business School Press, James Gilmore dan Joseph Pine mengemukakan bahwa ada lima jenis authenticity.
Pertama adalah natural authenticity. Ini mengacu kepada segala hal yang ada di permukaan bumi atau di dalam bumi yang sifatnya tidak sintetik atau artifisial, misalnya adalah organic food.
Kedua adalah original authenticity. Ini mengacu kepada segala hal yang memiliki orisinalitas dari segi desain. Misalnya adalah iPod dan iPhone dari Apple.
Selanjutnya adalah exceptional authenticity, yaitu segala sesuatu yang disampaikan secara langsung kepada Anda oleh orang lain, yang menunjukkan tingkat kepedulian yang sangat tinggi. Di sini contohnya adalah layanan legendaris ala Singapore Girls.
Lalu, referential authenticity adalah segala sesuatu yang mengacu kepada hal lain yang otentik. Misalnya adalah video games berjudul ”Call of Duty 2” yang mengacu kepada Perang Dunia II.
Dan yang terakhir adalah influential authenticity, yaitu segala sesuatu yang berpengaruh terhadap entitas lain, menginspirasi kita untuk mencapai tujuan lebih tinggi, atau memberikan harapan untuk sesuatu yang lebih baik. Ini misalnya saja penggunaan frasa-frasa seperti “conflict-free diamond” pada produk-produk intan atau “recycled paper” pada produk-produk berbahan kertas.
Memang, New Wave Marketing membuka peluang yang tidak terbatas bagi setiap orang. Pesaing bisa bermunculan kapan saja dengan keunggulan-keunggulan yang mirip dengan yang kita miliki. Tinggal sekarang bagaimana kita bisa mempertahankan “DNA” kita dan membangun orisinalitas agar tidak mudah ditiru oleh para pesaing ini.
(Ooh ... jadi resep sang kolonel tu beneran ada to ? Kirain kayak resep noodle atau jurus rahasia di Kungfu Panda ... "If you think something's special ... so it will be special ...")

Who's the third player in Cola market ?

ANDA tahu jawaban dari pertanyaan di atas? Ya, mungkin banyak dari Anda yang akan menggelengkan kepala. Selama ini Anda hanya mengenal duo raksasa yang menguasai pasar cola, Coca-Cola dan Pepsi. Jarang ada yang tahu, siapa saja pemain yang berada di belakang kedua pemain utama tadi.
Kenapa bisa begitu? Karena Coca-Cola dan Pepsi-lah yang pertama kali memperkenalkan produk minuman cola ini ke pasar. Coca-Cola didirikan pada tahun 1886, sementara Pepsi pada tahun 1903. Setelah itu, mereka pun secara konsisten mempertahankan dan meningkatkan brand-nya, seperti yang pernah saya bahas di tulisan saya terdahulu yang berjudul “The Never-Ending Cola War: Coke vs Pepsi”.
Inilah yang disebut oleh Al Ries dan Jack Trout dalam Positioning: The Battle for Your Mind sebagai keuntungan menjadi yang pertama dalam satu kategori. Kalau tidak bisa jadi yang pertama, Anda bisa membuat kategori baru sehingga secara otomatis Anda jadi yang pertama. Dan, jangan dilupakan, Anda harus berani mengklaim dan mengkomunikasikan posisi Anda sebagai yang pertama tadi. Kisah Christopher Columbus dan Amerigo Vespucci di tulisan saya yang pertama yang berjudul “The World is still Round, the Market is already Flat” menunjukkan pentingnya klaim ini.
Nah, perang menguasai benak orang alias konsumen (mind share) inilah yang menjadi isu utama dalam bagian Strategi dari marketing. Dalam riset pemasaran, Strategi ini berhubungan dengan aspek Cognitive dari konsumen. Cognitive ini maksudnya adalah persepsi konsumen terhadap suatu brand. Karena itu, mind share dari suatu brand diukur berdasarkan hal-hal seperti brand awareness, brand associations, dan brand image. Dari sinilah nanti dihasilkan apa yang dikenal sebagai Top of Mind (TOM).
Strategi merupakan langkah pertama yang harus dilakukan dalam perumusan strategic marketing. Karena pentingnya peran Strategi, perumusannya dilakukan pada level strategic business unit (SBU) dari sebuah perusahaan. Strategi ini dalam Legacy Marketing terdiri dari tiga elemen, yaitu Segmentasi, Targeting, dan Positioning (STP). Segmentasi disebut sebagai mapping strategy, karena di sini kita melakukan pemetaan pasar. Pemetaan ini merupakan proses yang kreatif, karena pasarnya sebenarnya sama, namun cara pandang kita terhadap pasar itulah yang membedakan kita dengan pesaing.
Anggaplah ruangan kantor Anda sebagai pasar. Nah, segmentasi pasarnya bisa bermacam-macam: bisa dari jenis kelamin, dari segi umur, dari yang punya laptop atau tidak, dari segi kebiasaan makan siang di luar kantor atau membawa makanan sendiri dari rumah, dan sebagainya. Bisa Anda lihat walaupun pasarnya tetap, namun cara segmentasinya bisa macam-macam. Setelah pasar dipetakan dan disegmentasi menjadi kelompok-kelompok pelanggan potensial dengan karakteristik dan perilaku serupa, perusahaan perlu memilih segmen mana yang mau dimasukinya. Inilah yang disebut Targeting.
Targeting didefinisikan sebagai cara mengalokasikan sumber daya perusahaan secara efektif, yaitu dengan memilih target market yang tepat. Targeting disebut sebagai fitting strategy karena kita menyamakan (fitting) sumber daya perusahaan Anda dengan kebutuhan target pasar yang dipilih. Dan unsur terakhir dari Strategy adalah Positioning. Setelah memetakan pasar, dan menyesuaikan sumber daya perusahaan Anda dengan segmen yang dipilih, maka kemudian Anda harus memiliki posisi yang kredibel dalam benak mereka.
Positioning ini sudah saya jelaskan panjang-lebar sebelumnya. Anda harus tepat memposisikan merek Anda di dalam benak pelanggan, yaitu apa sesungguhnya yang Anda tawarkan. Positioning sangat penting karena merupakan raison d’être merek Anda. Jadi, kalau Anda sudah berhasil merumuskan STP yang tepat, Anda akan bisa memenangkan perang di mind share. Bisa saja Anda saat ini kalah di market share, namun jika mind share dan apalagi heart share Anda masih kuat, peluang Anda untuk meraih market share yang hilang terbuka lebar.
Pada era New Wave Marketing, elemen-elemen dari Strategy yang dalam Legacy Marketing adalah Segmentasi, Targeting, dan Positioning, berubah menjadi Communitization, Confirming, dan Clarification. Walaupun prinsipnya mirip, namun ada perbedaan definisi dalam istilah-istilah tersebut.
Sebagai penutup, kembali ke pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini. Dari data yang saya peroleh, pemain ketiga di cola market ini ternyata adalah Dr Pepper Snapple Group Inc., yang sebelumnya dikenal sebagai Cadbury Schweppes Americas Beverages. Kalau nama perusahaannya tidak familiar, mungkin Anda lebih kenal merek produk-produknya, seperti: A&W Root Beer, RC Cola, 7Up, Sunkist atau Dr Pepper.
Nah, sekarang Anda tahu bukan, siapa pemain ketiga di cola market?

Mac vs PC : Clarifying Your Persona

PERNAH melihat klip iklan dari Apple yang judulnya “Mac vs. PC”? Iklan ini memang tidak masuk ke Indonesia. Tapi Anda bisa melihatnya di Internet. Coba saja masuk ke situs YouTube dan mengetikkan kata kunci seperti “Mac vs PC”, “I’m a Mac, I’m a PC” atau “Get a Mac”. Nah, Anda akan mendapatkan puluhan klip iklan ini yang siap dilihat.
Iklan ini sederhana, unik, dan kreatif. Penggarapannya sangat minimalis, hanya menampilkan dua orang sebagai karakter utama yang saling bicara satu sama lain dengan latar-belakang tempat yang warnanya putih semua. Karakter yang pertama tubuhnya ramping dan pakaiannya kasual: sepatu sneaker, celana jins, dan T-shirt polos berwarna gelap. Karakter satunya lagi tubuhnya agak gemuk, mengenakan kacamata, dan berpakaian resmi yaitu jas lengkap dengan dasi.
Kalau Anda tahu sosok Steve Jobs dan Bill Gates, kira-kira seperti itulah penampilan kedua karakter yang ada di iklan ini. Karakter pertama mirip Steve Jobs muda yang minus kacamata, kumis, dan brewok, sementara karakter kedua mirip Bill Gates. Karakter pertama namanya “Mac Guy”, diperankan oleh aktor Justin Long, sementara karakter kedua namanya “PC Guy” dan diperankan oleh seorang penulis dan humoris bernama John Hodgman.
Iklan ini punya banyak seri. Keseluruhannya ada sekitar 50 iklan. Selain versi Amerika dengan para pemeran di atas, iklan ini juga ada versi Inggris dan Jepangnya. Di kedua negara tersebut, orang yang memerankan kedua karakter tadi merupakan aktor-aktor lokal di kedua negara. Tapi secara keseluruhan iklannya sebenarnya sama, cuma beda pemeran saja.
Nah, iklan yang dibuat oleh advertising agency TBWA-Media Arts Lab ini selalu dibuka dengan karakter Mac Guy memperkenalkan diri dengan mengucapkan kalimat “Hello, I’m a Mac...” disusul karakter PC Guy yang mengucapkan kalimat “...And I’m a PC”. Tiap seri iklan punya plot serupa. Kedua karakter tadi pertama-tama memperkenalkan diri, lalu saling bicara tentang diri mereka masing-masing. Perbandingan kemampuan dan atribut masing-masing merupakan metafora dari komputer Mac dan PC. Karena ini memang iklan dari Apple, Mac Guy selalu digambarkan lebih unggul dibandingkan PC Guy.
Pada iklan versi “Virus” misalnya, PC Guy digambarkan sedang terkena demam dan mengingatkan Mac Guy agar menjauhinya, sambil berkata “ada 114 ribu virus yang dikenal untuk PC.” Mac Guy menjawab bahwa virus yang menyerang PC Guy tidak akan mempengaruhinya. PC Guy yang sedang demam akhirnya jatuh pingsan ke lantai, seakan menggambarkan situasi ‘crash’ yang biasa terjadi jika sebuah PC terkena virus komputer.
Versi lainnya sama saja, Mac Guy selalu lebih unggul dan tampak keren. Pada versi “Restarting”, ketika Mac Guy dan PC Guy sedang saling bicara, PC Guy tiba-tiba terdiam dan mengulangi pembicaraan sebelumnya. Ini seolah menyindir PC berbasis sistem operasi Microsoft Windows yang sering nge-hang dan kadang terpaksa di-restart. Agak nyelekit memang, namun bisa membuat kita tersenyum karena disampaikan dengan nada humor.
Seri iklan yang pertama kalinya diluncurkan pada 2 Mei 2006 dan masih terus diproduksi versi barunya sampai sekarang—seri terakhir diluncurkan pada 18 Agustus 2008 lalu—memang sudah jadi fenomena tersendiri.
Steve Jobs dan Bill Gates—yang asli—bahkan sempat membahas soal seri iklan ”Mac vs. PC” ini. Bill Gates dikabarkan tidak menyukai seri iklan tersebut. Ia sempat mengemukakan hal ini saat diwawancarai Steven Levi, editor senior Newsweek International, yang juga sering meliput perkembangan Apple, pada Februari 2007.
Namun, pada acara “D: All Things Digital Conference” pada 31 Mei 2007 yang menghadirkan Steve Jobs dan Bill Gates pada satu panggung, keduanya justru sempat menanggapi iklan tersebut dengan nada ringan. Pada acara yang diselenggarakan oleh The Wall Street Journal itu, Jobs berkata, “The art of those commercials is not to be mean, but it’s actually for the guys to like each other...PC guy is great, he’s got a big heart.” Ini kemudian ditimpali oleh Gates sambil tersenyum, “His mother loves him.”
Kedua orang ini—Steve Jobs dan Bill Gates—walaupun bersaing sejak dulu, namun memang saling menghormati satu sama lain. Jobs menghormati Gates atas peranannya dalam merintis dan mengembangkan industri perangkat lunak. Sementara Gates memuji kemampuan Jobs dalam memimpin pasar dengan mengembangkan produk yang inovatif.
Apa yang bisa dipelajari dari kisah ini? Ini menunjukkan bahwa karakter sebuah brand harus di-Clarify dalam benak konsumen. Caranya bukan sekadar dengan membuat slogan atau tagline, seperti yang biasa dilakukan dalam membangun positioning. Namun dengan memperjelas karakter brand tersebut. “Clarifying your persona” inilah yang menjadi salah satu ciri khas dari New Wave Marketing.

"I would like to know what my wife smells like"


ANDA tahu, siapa yang mengucapkan kalimat seperti judul tulisan di atas? Dia adalah William Shatner, aktor kawakan Hollywood pemeran Captain Kirk di serial televisi “Star Trek”. Shatner mengucapkan kalimat tersebut ketika mengomentari parfum bermerek My DNA Fragrance. Ya, inilah produk parfum yang diluncurkan di Inggris pada September 2007. Beda dengan produk parfum lainnya, My DNA Fragrances ini bau wanginya benar-benar khas untuk setiap orang.

Mengapa bisa demikian? Ini karena formulasi parfum ini bahan dasarnya menggunakan DNA seseorang sehingga tidak mungkin ada dua produk yang bisa sama persis. Seperti pernyataan yang tercantum dalam situs mereka,
www.mydnafragrance.com, produk ini adalah “One-of-a-kind exclusive fragrance designed by your DNA genetic code.” Unik, bukan? Inilah yang disebut “Coding the DNA”. Produk ini bukan sekadar berbeda, namun perbedaan itu benar-benar bisa sampai ke level “DNA” perusahaan dengan memanfaatkan DNA (tanpa tanda kutip) dari pelanggan itu sendiri.
Mengapa saya katakan seperti itu? Dalam tulisan saya terdahulu, saya katakan bahwa positioning dalam era New Wave Marketing telah berubah menjadi Clarifying. Nah, sama seperti hubungan antara positioning dan diferensiasi dalam era Legacy Marketing, klarifikasi inilah yang kemudian “diterjemahkan” ke dalam unsur-unsur unik dan inti dari sebuah perusahaan atau merek alias “Coding the DNA”.
Bagi perusahaan, produk My DNA Fragrance ini sudah melekat ke dalam identitasnya sendiri. Setiap produk yang dihasilkan akan jadi produk satu-satunya yang ada di dunia. Tidak bisa dihasilkan produk yang sama persis. Sementara bagi pelanggan, produk ini bisa menjadi tambahan identitas pribadi. Dengan menggunakan parfum ini, orang akan bisa dengan lebih mudah mengenali kita dari bau khas kita. Bahkan, identitas lewat parfum ini sifatnya abadi, selama sampel DNA kita masih disimpan oleh perusahaan parfum My DNA Fragrance tadi.
Jika Anda tertarik dan ingin memesan produk ini, caranya gampang. Masuk saja ke situsnya tadi lalu membuat account di situ. Terus klik saja pilihan yang diinginkan, apakah parfum pria, wanita atau produk isi ulang. Pilihan desain botolnya juga tersedia di situs itu. Nah, selanjutnya perusahaan itu akan mengirimkan kepada Anda seperangkat material (kit) yang gunanya untuk mengumpulkan sampel DNA. Jadi, Anda tinggal mengoleskan air liur ke material tersebut, lalu mengirimkannya kembali ke perusahaan parfum tadi.
Kemudian, di laboratorium perusahaan parfum itu sampel air liur Anda tadi akan diolah jadi sebuah profil DNA. Berdasarkan profil DNA inilah diformulasikan produk parfum dan akhirnya dikirimkan kembali ke kita. Jadi, Anda tidak perlu repot-repot datang ke laboratorium atau diambil darah untuk mengambil sampel DNA Anda. Cukup dengan cara yang sederhana seperti di atas.
Setelah sukses dengan produk parfumnya ini, My DNA Fragrance berencana untuk meluncurkan lini produk lainnya seperti lotion, sabun mandi, serta sampo dan kondisioner. Jadi, bisa dibayangkan bahwa nanti kita bisa punya bau yang benar-benar identik dengan kita sehingga orang akan dengan mudah mengenali kita lewat bau tersebut.
Sebuah konsep yang luar biasa, bukan? Tak heran jika dengan melakukan Coding seperti ini, My DNA Fragrance bisa stand-out di tengah-tengah pasar parfum yang sudah sangat ramai. Bayangkan, ada lebih dari 30 ribu merek parfum di dunia saat ini! Namun, My DNA Fragrance bisa membuat produk yang benar-benar unik dan bahkan tidak bisa ditiru oleh perusahaan lain.
Selain itu, produk ini juga sangat horisontal. Karena, dengan memproduksi parfum yang menggunakan identitas Anda, berarti merek Anda berdiri sejajar dengan merek para perancang terkenal atau selebritis kelas dunia yang dipakai untuk merek parfum. Jadi, merek Anda akan bisa berdiri sejajar dengan merek-merek seperti Hugo Boss, Cartier, Channel, Gucci, dan lainnya! Inilah era New Wave Marketing di mana semua orang bisa berdiri sejajar. Semua orang juga jadi punya kesempatan yang relatif sama berkat kemajuan teknologi.
Contohnya My DNA Fragrance tadi. Pengolahan DNA seseorang dan memformulasikannya menjadi sebuah ramuan parfum yang unik tentu membutuhkan seperangkat peralatan berteknologi canggih. Ini juga menunjukkan semakin terbukanya akses kepada teknologi yang semula bersifat eksklusif. Laboratorium DNA yang tadinya hanya untuk kalangan terbatas di dunia kedokteran, bisa merambah ke dunia komersial dan dapat dimanfaatkan oleh semua orang tanpa kecuali.
Nah, apakah Anda ingin tahu seperti apa bau tubuh Anda sendiri atau mungkin bau tubuh seseorang? Silakan coba sendiri produk My DNA Fragrance tadi!

Terperangah Pada Asketisme Amerika Latin

Rikard Bagun wrote :
Sebagai tamu khusus, saya dan politisi muda Indonesia, Budiman Sudjatmiko, dapat berkali-kali memasuki rumah kediaman Presiden Paraguay Fernando Lugo di pinggiran Asuncion, ibu kota negara.
etiap kali masuk, kami berdua dibuat terperangah dan tidak habis pikir mengenai kondisi rumah berukuran sekitar 45 meter persegi itu. Citra kesederhanaan tidak hanya terlihat dari luar, tetapi terutama di dalam rumah warisan keluarga Lugo itu.
Sekalipun Lugo sudah terpilih sebagai presiden pada April lalu, kondisi rumahnya tidak berubah juga, sekurang-kurangnya sampai dua hari setelah dilantik tanggal 15 Agustus lalu.
Dengan diantar oleh Martin Bhisu asal Flores, Nusa Tenggara Timur, saya dan Budiman dapat memasuki rumah itu berkali-kali tanpa halangan sedikit pun.
Rasa terkejut bertambah karena Martin, mantan sekretaris pribadi Lugo, terkesan seenaknya mengajak kami berdua melihat- lihat seluruh ruangan, termasuk dapur dan kamar tidur Lugo.
Namun, belakangan baru diketahui, Martin sebagai mantan sekretaris pribadi Lugo sudah menyatu dengan budaya masyarakat Paraguay yang terkenal ramah terhadap tamu dan cenderung memperlakukan tamu sebagai anggota keluarga.
Tidak segan-segan orang Paraguay, pria atau perempuan, mengajak minum yerba mate, teh khas Paraguay, yang diminum bersama secara bergilir dari satu cangkir kayu. Jika sudah kenal, tamu bisa mengajak lihat dapur dan isi kulkas, bahkan tempat tidur.
Kehangatan macam itu juga terasa di rumah kediaman Lugo. Hanya bagi saya dan Budiman dengan latar belakang Indonesia, alangkah mengejutkan kondisi rumah kediaman presiden yang begitu sederhana, jauh dari kemewahan.
Jika di Indonesia, jangankan presiden, pelantikan seorang pejabat tinggi pun sudah memancing banyak orang yang berkepentingan untuk mengulurkan tangan, memberi bantuan, termasuk memperbaiki rumah.
Karangan bunga pun mengalir. Namun, dalam kasus Lugo, hal macam itu praktis tidak terlihat. Citra asketis sangat kuat pada Lugo, yang terefleksi jelas pada rumah kediamannya.
Cat kusam tetap menyelimuti dinding luar dan seluruh ruangan rumah. Sofa sederhana, yang terkesan agak kusam, tetap berada di ruang tamu yang menyatu dengan ruang makan. Terlihat pula sebuah perangkat TV tua.
Ekspresi kesederhanaan itu semakin terasa kuat pada meja makan. Setiap tamu, termasuk kami bertiga dari Indonesia (saya, Budiman, dan Martin), ikut menikmati makanan harian Lugo berupa singkong rebus, nasi putih, daun kol cacah (salad), dan ikan. Jenis makanan sehari-hari rakyat biasa di Paraguay. Tidak ada yang istimewa.
Sementara itu, di dinding ruang tamu yang kusam tampak tergantung bingkai sederhana berisi surat keputusan komisi pemilu atas kemenangan Lugo dalam pemilihan presiden. Juga terlihat foto pribadi Lugo yang sedang berpidato, yang dibingkai dengan sederhana pula.
Dalam lorong tangga menuju lantai dua terlihat tembok yang kusam terkena tirisan hujan. Potret kesederhanaan itu semakin terlihat pada kamar tidur Lugo yang kecil.
Ketika dilantik menjadi presiden, Lugo terlihat seperti menggunakan baju putih lengan panjang dan celana panjang krem yang sudah biasa dipakainya. Sama sekali tidak memakai seragam lengkap sipil.
Ajak ke istana
Selama menjadi tamu khusus, saya dan Budiman sering terkaget-kaget dengan kiprah Lugo yang terkesan tidak terikat dengan pakem protokoler seorang presiden.
Dua hari sebelum dilantik, Lugo, misalnya, tiba-tiba meminta Martin untuk mengantarnya ke Casa Sentral SVD. Dengan mobil setengah pikap, Lugo bersama kami bertiga dari Indonesia pergi di tengah larut malam ke Casa Sentral SVD di pinggiran Asuncion.
Dua hari setelah dilantik, Lugo tiba-tiba juga mengajak kami bertiga menaiki mobil yang dikemudikannya sendiri ke Istana Kepresidenan. Namun, ajakan itu batal karena kami menggunakan kendaraan lain agar leluasa bisa meninggalkan Kantor Kepresidenan. Akan tetapi, Lugo meminta agar kendaraan kami mengambil posisi langsung di belakang kendaraannya menuju istana.
Sesampai di Istana Kepresidenan, kami bertiga diajak Lugo untuk ikut melihat seluruh ruang kerja, termasuk ruang sidang kabinet dan kamar istirahat yang dilengkapi kasur.
Selama hari pertama mengantor itu, kami bertiga dipersilakan duduk sambil minum kopi dan teh di ruang kerjanya. Secara langsung kami bertiga dapat menyaksikan Presiden Lugo menerima sejumlah anggota kabinet sembari menandatangani sejumlah dekret penting.
Pada hari pertama kerja sebagai presiden itu, Lugo mendapat laporan, anggaran rumah tangga istana hanya tersisa sekitar 20.000 dollar AS untuk kebutuhan empat bulan ke depan. Sebagian dana sudah dihabiskan rezim terdahulu yang terkenal korup.
Sesekali Lugo dan anggota kabinetnya menanyakan situasi terkini Indonesia. Sehari sebelumnya kami bertiga juga diajak mengikuti acara syukuran di San Piedro, tempat Lugo menjadi uskup sebelum terjun ke dunia politik tahun 2006.
Ketika makan pagi, kami menyaksikan bagaimana Lugo bersama Presiden Venezuela Hugo Chavez menyantap makanan rakyat Amerika Latin, seperti ubi kayu, jagung, dan pisang rebus.Salah satu karakter para pemimpin neososialis Amerika Latin memang kedekatan dengan rakyat...

Is it possible for Indonesia to have an integrated database for Indonesian citizen ?

Arisaja wrote :
I’ve come across with a story from a friend, she’s staying in Australia, and just recently renew her passport in the Embassy of the Republic of Indonesia in Australia, since she’s still using her green passport eventhough she’s married to an Australian. Apparently, when she was travelling to New Zealand, the Australian immigration officer asked for her old passport. She just found out that her new Indonesian passport number has the same number with other person’s passport. How could that be?
It’s not uncommon this sort of thing happens to Indonesian, since our civil record still pretty much clutterd all over the bureau of authorities. From office to office you will find the data of Indonesian stacked in huge file of red or green stofmaps. This can be a potential door for those with bad intention.
Have you ever tried to apply for a passport in your local immigration office?
You have to bring yourself at least four different types of document to prove your legal existance as Indonesian citizen. Your birth certificate, family listing, diplomas, and of course your ID card if available or other form of certificate.
Is it possible for Indonesia to have one integrated and online database of its citizen?
I’ve always dream of it.
Every child born as Indonesian, their parents will just have to go to the sub-district office with a paper from the hospital or nurse, stating the name of the baby and parents and the time he/she was born. Having registered, she/he will get her birth certificate with a unique number which he/she must carry for his/her entire life. Meanwhile an officer filling her database, along with a finger print database, this to reduce the possibility of one person have more than one identity or name. This unique number then registered in a bureau for citizenship, which also connected to other bureau for different purpose, like immigration office, election commission, police department, homeland security, and all related institution.
When the time comes for a citizen to get ID card, they just have to show the family listing which also contains the citizen number. Put a barcode on the ID card, and the card can be used for multiple purpose. Apply for passport, voters registration and all sort of things can be made simpler.
I know, it is easier said and done, but, is it really impossible?
One, the cost of getting an online database, especially with a huge population like Indonesia, will be unbelievably big.
Two, the infrastructures aren’t ready, if you don’t want to say there are none of them.
Three, Indonesia consists of thousands of islands, spread in 5000 km distance from west to east (getting these islands together in one big Indonesia is a big achievement itself)
Four, people in Indonesia living in many different types of terrain, from low lands to the peak of mountains.
So, have your say… or should I just keep on daydreaming?

Love your job, not the company

Arisaja wrote :
Probably those of you who follow me on twitter noticed that for the last couple of days (or weeks) I’ve been whining about my current job here in Singapore. Even though I hold the same position as my previous company in Jakarta a year ago, but somehow I didn’t like it as much.
So what’s wrong?
What’s wrong with the job?
Nothing, nothing is wrong with the job, I love my job.
So, what is it all about?
The situation, the current situation pretty much frustrating for me. The company, well it’s just started about one and half year ago, so you couldn’t expect lots of jobs and big ones flowing in your lap. No, it just starting. Indeed we have projects, and they come in bits and pieces. Doing a bit of this, a bit of that, updating databases. Euh, I really do not want to evolve in such frustrating situation much longer. I am feeling like I am wasting my talent. I need a break, out of this situation.
So what to do next?
As you will notice in my
tumblr, one of my targets for the upcoming year is to get myself a new job, errgghh.. not a new job, I love my job, I mean another company to work for, and possibly pays better. I have myself one in hand, and if everything goes as it should be, then by early next year I’m leaving Singapore and heading for the next destination, at the moment I cannot disclose that.
Also considering another option here in Singapore, which I haven’t heard any news for two weeks, I guess I fail my self in one of my worst job interviews. But someone shed me some lights yesterday, bigger break, bigger opportunity some where further. Hopefully this goes as smoothly as possible too.
Reason behind
I hate when everybody thinks that moving from one company to another is always about the money. Not for me, although money is one of the major factor to be considered, I put aside money over opportunity. Opportunity to grow and develop myself to be a better professional.
Second of all, I love my job, my position as a process engineer, in the past time I really enjoyed it. And for the sake of the love for the job, I’ve decided to move on, since by sitting here, I am wasting my talent, therefore I do not take care of my job properly. I mean if you love something and you do not want to lose it, you should take care for it, am I right?
Anyway, there’s a famous a famous saying, love your job, not the company you work for

blogger = narsis

Adhi KSP wrote :
.................. Pada awalnya, ketika saya mengajak teman-teman agar aktif menulis di blog, saya pernah di-omeli, “huh dasar narsis!”. Tetapi saya ingin sampaikan kepada Anda bahwa saya merupakan satu dari lebih dari 200 juta blogger di dunia yang “narsis”. Menurut BBC, dalam satu detik, lahir satu blog baru di seluruh dunia............... (September 2008)
May you love as long as you live and live as long as you love. Robert Heinlein.
I really liked it. Even the music was good. (When asked if he liked the opera one evening.)Yogi Berra

Breasts ... errrr... boobs ...

Arisaja wrote :
Hope this post will not be banned according to newly passed Pornography Act. Intrigued by treespotter to write something about boobs err breasts, so here is my piece.
Why Men Interested in Boobs?
Breasts probably the first erotic experience for men (and women too), the first thing they would encounter as soon as they open their eyes to the world. That is if you were breastfeed. But as human grows, men interest to breasts is differ from women. Men think of boobs as part of women sexual appeal - regardless of size, but sometime size does matter. Let us men admit, when you met a girl what is the first thing you will notice after you put a glance on her face?
I would say boobs, why? Because they are spot on, especially women in tight shirt. Probably one of the obvious reason why men are fascinated about boobs, simply because men didn’t have them. We have nippled chest, not boobs. While women have a pair of them, so what’s the big deal?
It was way back, in my adolescence when I had my first boobs experience. That is paying attention to girl’s boobs as part of their sexual appeal. I still remember in the time of my junior high, one of the girls in my class has a pair of boobs that significantly different in size with other girls. While other’s probably still wearing minisets or A cup bra, she’s probably using C cup (Do I sound like a pervert?). Well, what can I say, it was the transitional period from a child to a man. And part of it was attraction to opposite sex. And boobs are sexually appealing.
What size are you?
As I grow into a more mature, preference to what size of boobs that I like better formed. When come to size, I think most men would say the bustier the better. I personally prefer in the correct proportion. The size that just right. I do admit, bustier boobs make women more noticeable, easier to be spot on. But when they get to much and become disproportional with the body curvature, I don’t like it as much.
I don’t really know how women feel about their body, particularly their breasts. Some women just happy for what they are, but some feel dissatisfied on their appearance. Women with dissatisfaction tried many ways to get what they want it for their body (and breasts). Undergo plastic surgery for example, having silicone implanted to make it look better in a way, sexier, sexually more appealing and such. But is that the only thing that interests men? Well, if you are trying to become a pornstar, that’ll do. But to attract men, it takes more than just a pair of boobs.
Brighter side of Boobs
As I mentioned before, that breasts are the first encounter of newly born human to sexuality. But breasts serve a noble purpose in life. They are means of nurturing the infants. Breastfeeding, probably the best for baby’s growth and development. First drop of mother’s milk will give the baby immunity. Mother’s milk also contain more nutrient than any type of formula that essentials for the babies. Women that breastfeed have lesser risk of breast cancer, which to women they consider their worst nightmare.
Breast are gift, both to women and men, especially women. That’s why, women should pay more attention taking care their breasts instead of having bustier or bigger breasts. Healthy breasts are good for the baby, and keeps the father happy.
————————————-
PS : It’s hard to keep the writing decent and not sound perverted. Not having a taste of boobs for quite sometime now, this is what I came up with in such a sort notice. Wish I can do more of observati

Sunday, November 2, 2008

Boo .... !!

aku sedang lari pagi di halaman komplek. ada seorang anak muda keluar dari salah satu rumah yang kulewati. tuit-tuit,bunyi alarmnya, lalu ia membuka pintu mobil, menghidupkan mesin dan diam di mobil beberapa saat untuk memanaskannya. tampaknya belum mandi, pakai baju ga terlalu rapi, mungkin mo olah raga. walau ga ada keliatan bawa peralatan dan perlengkapannya. bisa jadi sudah tersedia di bagasi mobilnya. tennis ? atau renang. atau ke gym. atau golf. atau mancing. karena orang baru(3 bulan masih termasuk kriteria baru bukan, he he …) maka aku ga tau siapa dia.kami juga tidak berusaha untuk bertegur sapa. tapi yang menyengatku bukan itu. seorang bunda tergopoh di belakangnya. berhenti di depan pintu rumah (rumah di komplek kami ga berpagar). memandang penuh cinta. dan berteriak “jangan nyetir sambil sms ya sayang”. anak muda itu menatap tanpa ekspresi, kemudian berlalu dengan mobilnya. wanita paruh baya itu pun menghilang di balik pintu rumah. aku membayangkan diriku sekitar sepuluh tahun ke depan. Boo.. !! Halloween sudah lewat, tapi tiba2 aku merasa dikagetin dan ditakutin oleh kejadian barusan. aku berbelok kerumah, membangunkan fara dan anggas untuk naik sepeda bareng. jelas, ada temali yang harus aku cicil simpulnya sejak sekarang…

What matters most ?

Aku suka heran. Denger cerita2 tentang para istri yang melakukan apa pun untuk kebahagiaan suami. Minum jamu, les pijat, mempelajari pose baru, spa vagina, bahkan operasi pemulihan selaput dara. Ga pede, menurutku. Atau aku yang terlalu culun ?

Yup, benar seks adalah salah satu parameter kebahagiaan per'kawin'an. Di aku juga weight-nya cukup 'dahsyat'. Tapi menurutku kebahagiaan bukan sekedar itu. Apa nilai seorang wanita kalau hanya itu yang mereka andalkan ? Semua akan hilang tergerus waktu. Tapi menjadi lawan debat yang mengasikkan, nyambung kalo diajak ngobrol, selalu punya ide2 segar yang breaking through, semuanya adalah sex appeal yang more worthy dan akan merembet ke hal2 lain. Something on the way you talk, you think, you write… akan membuat you got something too on the way you smile, you laugh, you stare, you walk, you move, you shoot ('night shoot', maksudnya, he he …)

Well, semua kembali ke visi dan misi masing2 couple. Dari situ pasti ketahuan akan memaksimalkan value stakeholder yang mana ? What matters most ? Dan bahwa itu beda2, absolutely ! But please deh…. C’mon girls … masak sampe operasi selaput dara sih ? Don’t say that’s the way you’ve been brought up !