Showing posts with label It's not about Obama - it's about the sexiest man alive... Show all posts
Showing posts with label It's not about Obama - it's about the sexiest man alive... Show all posts

Wednesday, November 26, 2008

He's still a man ...

Barack about being present to his family: "It is important that when I'm home to make sure that I'm present and I still forget stuff. As Michelle likes to say, 'You are a good man, but you are still a man.' I leave my socks around. I'll hang my pants on the door. I leave newspapers laying around. But she lets me know when I'm not acting right. After 14 years, she's trained me reasonably well."

Sunday, November 9, 2008

road 2 white house
























































































































































Thing I like about him is ... cara dia nyingsingkan lengan kemejanya ... somehow nunjukin dia siap kerja keras.














Denzel .... Denzel ....

"..... Dan saya rasa waktunya telah tiba bagi kehadiran aktor James Bond berkulit hitam." Daniel Craig. (Denzel, my rock ... he he ...)

the first dog candidate ...

Selain persiapan memasuki kantor baru di Gedung Putih, Presiden AS terpilih Barrack Obama juga tengah mempersiapkan sesuatu yang berharga sebagai pemenuhan 'janji kampanye'nya untuk keluarganya, yakni kandidat first dog. Pada konferensi pers pertama setelah pemilu pada Jumat (7/11), tim suksesnya mengatakan, pemilihan first dog menjadi isu utama administrasi rumah tangga Gedung Putih dan isu tersebut menjadi pembahasan seru dalam situs Obama.
"Kami punya dua kriteria yang harus dipertimbangkan. Pertama, Malia itu terkena alergi sehingga anjing itu mestinya hypoallergenic. Sisi lainnya, kami juga ingin mengadopsi anjing dari tempat penampungan, tetapi kebanyakan anjing di sana berasal dari ras campuran seperti saya," ujar Obama.
(Hmmm ... bukan mo nyama2in ama Obama ... tapi isu anjing peliharaan kebetulan sdg jadi topik seru di rumah. Terutama Anggas, yang sekitar 2 minggu lalu aku janjiin boleh pelihara anjing saat dia sudah bisa bertanggung jawab penuh atas piaraannya. Dan kelas satu es em pe adalah satu janji yang membuat dia berbinar2 dengan tiada hari tanpa pertanyaan : Dedek kelas satu es em pe masih lama enggak sih? Makanan anjing tu apa saja ? Dikandangin di mana entar ? Gimana cara mandiinnya ?
Well, Yangkung emang dokter hewan ... tapi sori Say... mama bukan anggota kelompok penyayang binatang ... bahkan kucing di kos2an mama dulu selalu gemeter setiap berpapasan ama mama ... hi hi ... krn begitu seringnya mama tendang ...(hih, horor ga sih mama ni ? he he ...) So, siapin nama buat your first dog candidate aja dulu ya Chayank, soal kelas satu es em pe, que sera sera aja deh ... )

Barack's Rock

She's the one who keeps him real, the one who makes sure running for leader of the free world doesn't go to his head. Michelle's story.

Michelle ObaObama was never much interested in calling attention to herself. As an undergrad at
Princeton in the 1980s, she was interested in social change, but didn't run for student government. Instead, she spent her free time running a literacy program for kids from the local neighborhoods. At Harvard Law, she took part in demonstrations demanding more minority students and professors. Yet unlike another more prominent Harvard Law student who would later take up the cause, she was not one to hold forth with high-flown oratory about the need for diversity. "When [Barack Obama] spoke, people got quiet and listened," recalls Prof. Randall Kennedy. "Michelle had a more modest, quieter, lower profile." Barack won election as president of the Law Review. Michelle put her energy into a less glamorous pursuit: recruiting black undergrads to Harvard Law from other schools. For her, politics wasn't so much about being inspirational as it was being practical—about getting something specific done, says Charles Ogletree, one of her professors. "She was not trying to get ahead."

She no longer has the luxury of keeping a low profile. Now a very public figure, Michelle has accepted the role of aspiring First Lady and the sometimes uncomfortable scrutiny that comes with it. On the campaign trail, she is sometimes slated as the opening act, introducing Barack to the audience. Direct and plain-spoken, with an edgy sense of humor uncommon in a political spouse, she complements her husband's more grandiose style. She can be tough, and even a little steely, an attitude that stems, at least in part, from wanting to live up to the high expectations her father set for her. She wants to change the world, but she also wants to win this thing now that they're so deeply invested. If his loftiness can set him apart from the crowd, her bluntness draws them in. Standing up before large audiences wasn't easy at first. "I've never participated at this level in any of his campaigns," she told NEWSWEEK last week. "I have usually chosen to just appear when necessary."
placeAd2(commercialNode,'bigbox',false,'')
From the beginning of the campaign, Michelle made it clear to her husband that she would give the effort her all ("We need to be in there now, while we're still fresh and open and fearless and bold," she told Vanity Fair last December), but not at the expense of family life. At two meetings with the candidate and his political aides shortly before he announced his intention to run, she grilled them about particulars, practical concerns that had nothing to do with his sweeping themes of "hope" and "change." What demands would the campaign place on their lives? Where would the money come from? Could they really take on the Clinton machine and win, or was this just an extended ego trip? "She didn't want Barack to launch some kind of empty effort here," says senior strategist David Axelrod.
Michelle also raised concerns about her husband's safety. It was one of the first questions her own family had asked her when she first aired the possibility of running. He would soon be assigned Secret Service protection very early in the campaign, in response to the huge crowds he was drawing and threatening e-mails. Michelle, who now has a security team of her own, does not like to discuss the possibility of Barack's getting hurt. "We are grateful the Secret Service is a part of it," she told NEWSWEEK last summer. "I'm probably more grateful than Barack, who loves to live a very normal life. This is the first sign that our lives aren't normal."
At the meetings, Axelrod and the other aides addressed each of Michelle's questions. "Suffusing these discussions was, if we did it, she and he both wanted to make sure it was consistent with who he is and what he thinks, and wouldn't distort that," says Axelrod. She has expressed fears that the nastiness of presidential politics could wind up sucking the idealism out of her husband, leaving him just another soulless, cynical Washington pol. "Michelle has always been in the camp of, 'Let's not forget what we're fighting for'," Axelrod says. After the meetings, Michelle gave Barack her blessing (Newsweek).

michelle my rock (2)

Michelle LaVaughn Robinson (47) pernah mempertanyakan Barack Obama ketika suaminya itu hendak mencalonkan diri sebagai presiden AS. Katanya, bagaimana mereka bisa menggalang dana untuk membiayai kampanye Obama karena Michelle tak ingin Obama melakukan usaha yang hasilnya nihil.
Menurut Michelle, bukan hal mudah untuk mendapatkan dana kampanye. Tidak mungkin juga mereka hanya mengandalkan mesin uang mantan presiden dari Partai Demokrat, Bill Clinton. Tidak hanya uang, persoalan keamanan menjadi bahan pemikirannya.
Meski begitu, sejak awal kampanye Michelle berupaya sekuatnya untuk memberi dukungan kepada Obama. Michelle menyewa satuan intel saat di tengah massa, sebagai antisipasi akan kemungkinan Obama terluka.
”Saya mungkin lebih bersyukur ketimbang Barack, yang mencintai kehidupan normal. Kekhawatiran ini adalah tanda-tanda awal bahwa kehidupan kami mulai tidak normal,” ujar Michelle.
Untuk mengakhiri perjuangan yang telah dimulai, Michelle turut berorasi di depan pendukung mereka. Daya tarik Michelle adalah, menurut majalah Newsweek, dia mampu mendatangkan massa setidaknya 1.000 orang lebih secara rutin, termasuk saat hanya berkampanye sendirian. Dia bepergian dari satu wilayah ke wilayah lain untuk memberi pidato dan berbagai kegiatan.
Michelle muncul sebagai figur publik, menerima peran sebagai calon first lady yang mengaspirasi. Saat berkampanye, lulusan Universitas Princeton dan Harvard Law School ini terkadang dijadwalkan memberi pidato pembuka memperkenalkan Obama kepada massa.
Perempuan kelahiran 17 Januari 1964 ini tidak hanya duduk santai pada sesi-sesi strategis. Ia memanfaatkan waktu untuk menggalang dana lewat telepon meski sesungguhnya ia tak menyukai pekerjaan tersebut. ”Aku benci penggalangan dana, benciii... benci!,” ujarnya.
Banyak pihak mengagumi pembawaan dirinya. Sifatnya yang rendah hati dan kalem dipadu dengan kepercayaan diri yang kuat dan kecerdasan yang mantap. Cara berpakaiannya pun sangat sesuai. Karena itu, Vanity Fair memasukkannya dalam 10 perempuan berbusana terbaik. Gaya berpakaian Michelle disejajarkan dengan istri Presiden Perancis Nicolas Sarkozy, Carla Bruni; eksekutif kosmetik Evelyn Lauder; serta artis Sarah Jessica Parker.
Majalah People juga menobatkan anugerah serupa kepada Michelle, bersama peraih Piala Oscar, Gwyneth Paltrow dan Charlize Theron.
Di luar itu, Obama kerap memperkenalkan Michelle sebagai ”My Rock”, seseorang yang menjaga dirinya tetap fokus dan membumi. Michelle berusaha meyakinkan Obama untuk tetap menjaga setiap hal riil.
Pembicaraan mereka di telepon tidak lagi seputar hasil polling kampanye, tetapi tentang anak-anak, Malia Ann (9) dan Natasha (7). Michelle berusaha selalu mengingatkan Obama untuk tidak kehilangan kehidupan normalnya. Ketika pulang, Obama diingatkan untuk menghadiri rapat orangtua murid di sekolah.
Michelle membelikan dua laptop, satu untuk Obama dan satu lagi untuk anak-anak, sehingga mereka dapat bercakap-cakap lewat video internet.
Keduanya bertemu tahun 1989. Saat itu Michelle mendapat mentor Barack Obama, seorang yang saat itu dianggap istimewa oleh banyak orang. Michelle semula tak tertarik cerita di kantor tentang mahasiswa hukum Universitas Harvard, yang olehnya dikenal sebagai ”pria berkulit hitam yang selalu berbicara tepat sasaran”.
Obama begitu percaya diri saat mendekatinya dan berkata, ”Saya rasa kita harus berkencan.” Michelle menolaknya karena merasa ajakan tersebut belum patut. Namun, pertahanan Michelle berakhir setelah Obama mengajaknya untuk pergi ke kegiatan kelompok di gereja.
Dia kemudian memastikan bahwa dirinya menyukai Obama. ”Dia benar-benar berbeda. Saya suka menikahi seseorang yang memiliki pemikiran mendalam mengenai berbagai hal,” katanya.
Obama berkomentar mengenai Michelle, ”Selama 14 tahun bersama, dia melatih saya dengan sangat baik,” kata Obama, sebagaimana dituliskan dalam buku berjudul Ebony, ”The Hottest Couple in Amerika”, yang ditulis Lynn Norment tahun 2007. (Irma Tambunan)

michelle my rock (1)

The article by Kevin O'Leary explains, "How the woman who first refused to date Barack Obama became what he calls, 'My life, my rock, my foundation.''
Obama told the magazine: "Michelle is an extraordinary mother to our two girls. When we started out on this campaign, we wanted to make sure that life for our girls would remain as normal as possible, and it is because of Michelle that they are so grounded.
" Nothing is more important to Michelle than being a good mother,'' the senator from Illinois told the magazine, "and she works every day to instill in our girls the same values we were raised with."

She shops at Target, loved Sex and The City and never miss the gorl's recitals (US Weekly)

Mc Cain's speech

Pahlawan perang Vietnam itu—bahkan sempat lima tahun dijebloskan ke penjara sebagai tahanan perang di Vietnam—John McCain (72), harus merasakan kekalahan. Ia harus mengakui kehebatan ”anak muda”, Barack Obama (47), yang belum pernah merasakan dan mengalami hebatnya perang.
Pengalaman politiknya pun jauh lebih panjang dan matang dibandingkan dengan Obama. Ia memenangi kursi Kongres pada tahun 1982 dan empat tahun kemudian menduduki kursi Senat. Tahun 2000 ia pernah bertarung melawan George W Bush untuk merebutkan nominasi sebagai kandidat presiden dari Partai Republik.Setelah gagal mengalahkan Bush, ia kembali ke Senat. Kemudian, ia bertarung melawan Obama setelah mengalahkan para nominator dari Partai Republik untuk memperebutkan kursi presiden.Akan tetapi, kenyataan berkata lain. McCain harus menyimpan dalam-dalam mimpinya untuk menjadi orang nomor satu di AS, satu-satunya negara adidaya di dunia ini. Ia harus mengakui keunggulan Obama.
”Kita telah sampai pada akhir perjalanan panjang,” katanya dalam pidato pengakuan kekalahan, beberapa hari lalu, seperti disiarkan CNN. ”Rakyat Amerika telah berbicara (memilih) dan mereka berbicara secara jelas.” Rakyat Amerika telah menjatuhkan pilihan dan pilihannya itu Obama.
Sebelum berpidato di hadapan para pendukungnya di Arizona, ia menelepon Obama: mengakui kekalahan dan mengucapkan selamat.Ia melanjutkan pidatonya, ”Apa pun perbedaan kita, kita semua adalah orang Amerika. Saya desak semua warga Amerika yang mendukung saya untuk bersama saya tidak hanya memberikan selamat kepada dia (Obama), tetapi menawarkan kepada presiden kita mendatang kehendak baik kita dan usaha yang sungguh-sungguh untuk bersama-sama mencari jalan, berkompromi, menjembatani perbedaan kita, dan membantu memulihkan kemakmuran, mempertahankan keamanan kita dalam dunia yang berbahaya ini, dan mewariskan kepada anak cucu kita sebuah negara yang lebih baik dan lebih kuat dibandingkan yang kita warisi.”McCain melanjutkan pidatonya, ”Kalau sekarang ini kita kalah, itu bukan kegagalan Anda semua, tetapi kegagalan saya!” Dan disambut oleh pendukungnya "Tidak ..... !" Beberapa kali ia harus menenangkan pendukungnya yang berteriak "Booooo ...!" dengan mengucapkan "Please ...please ..."tiap kali ia menyebut nama Obama.
McCain mengakhiri pidatonya dengan mengatakan, ”Malam ini sangat berbeda dengan malam-malam sebelumnya, tidak ada dalam hati saya kecuali kecintaan saya kepada negeri ini dan kepada seluruh warga negaranya, apakah mereka mendukung saya atau Senator Obama. Saya mendoakan orang yang sebelumnya adalah lawan saya semoga berhasil dan menjadi presiden saya.”

Belajar dari "Dewey defeat Truman"

Enam puluh tahun lalu, tepatnya 3 November 1948, judul ”Dewey Defeat Truman” (Dewey Kalahkan Truman) itu diturunkan sebagai berita utama Chicago Daily Tribune seusai pemilu presiden AS. Pada kenyataannya, pemenang pemilu presiden itu adalah Harry Truman (Demokrat), bukan Thomas E Dewey (Republik).
Hingga 60 tahun kemudian, berita yang ditulis Arthur Sears Henning itu masih menjadi pelajaran paling diingat oleh kalangan wartawan dalam meliput dan memberitakan pemilu presiden. Itulah bahayanya jika ingin menjadi yang pertama menyiarkan berita besar tanpa mengetahui kepastian dan akurasi beritanya.
Mengapa bisa sampai turun berita semacam itu? Lewis Kramer dalam situs HistoryBuff.com menyebutkan, ada beberapa faktor yang membuat berita salah itu tercetak.
Penghitungan suara berjalan lambat dan surat kabar itu dikejar deadline untuk terbit. Berdasarkan hasil penghitungan awal, kata Kramer, staf yang bertugas ”merasa” Dewey akan menang.
Setelah surat kabar dicetak dan mulai didistribusikan, hasil penghitungan menunjukkan perolehan Truman makin mendekati Dewey. Bisa ditebak, hasil akhirnya adalah kemenangan Truman.
Para pegawai Chicago Daily Tribune harus dikerahkan untuk mendapatkan kembali surat kabar dengan berita salah itu. Ribuan eksemplar berhasil ditarik, tetapi banyak juga yang sampai ke tangan pembaca.
Sebelah mata
Begitu yakinnya para wartawan, politisi, dan pengamat akan kemenangan Dewey membuat mereka memandang Truman sebelah mata. Padahal, Truman adalah incumbent, yang sedang menjabat presiden menggantikan Franklin D Roosevelt yang meninggal sebelum masa pemerintahannya berakhir.
Truman juga bertanggung jawab atas keputusan penting untuk mengakhiri Perang Dunia II dengan menjatuhkan bom di Jepang. Dia juga membuat Doktrin Truman untuk memberikan bantuan kepada Turki dan Yunani sebagai bagian dari politik pembendungan.
Akan tetapi, publik dan media seakan-akan memusuhi Truman. Mereka menyebut Truman ”lelaki kecil” dan tidak layak. Barangkali penyebab utama ketidaksukaan terhadap Truman disebabkan dia tidak seperti Roosevelt yang mereka cintai.
Di lain pihak, Dewey masih terhitung muda, menyenangkan, dan hanya kalah dengan selisih kecil dari Roosevelt dalam pemilu tahun 1944. Banyak pihak yakin Dewey akan menang mudah, bahkan dengan kemenangan mutlak.
Rupanya Truman tak gentar. Dia bekerja keras membuat pemilih keluar dan melihat dia. Dalam enam pekan, dia telah berkeliling sejauh 51.200 kilometer dan berpidato 355 kali. Slogan kampanyenya sangat terkenal, ”Give ’em Hell, Harry!” (Beri Mereka Neraka, Harry!).
Sebaliknya, merasa di atas angin, kubu kampanye Dewey memutuskan untuk berkampanye biasa-biasa saja. Bahkan, begitu yakinnya kubu Republik, mereka sedikit sekali berkampanye.
Mendekati pemilu, jajak pendapat menunjukkan Truman bisa menghentikan laju keunggulan Dewey. Namun, semua media tetap yakin Dewey akan menang mutlak.
Tidak tahu
Hari Selasa, 2 November 1948, Truman dan keluarganya memberikan suara di Independence, Missouri. Dia kemudian menuju Excelsior Springs dan menghabiskan malam dengan menunggu hasil pemilu.
Saat malam bergulir, Truman telah memimpin dalam perolehan suara pemilih (popular votes). Kendati begitu, para wartawan masih yakin Truman tidak memiliki kesempatan.
Truman tidur lebih awal malam itu dan mengetahui bahwa dia telah kalah dalam pemilu. Keesokan harinya, dia bangun dan akhirnya tahu bahwa dia menang.
Truman mendapat 24.179.347 suara (49,6 persen) dan 303 electoral votes dari 28 negara bagian. Adapun Dewey memperoleh 21.991.292 suara (45,1 persen) dan 189 electoral votes dari 16 negara bagian. Dewey akhirnya mengakui kekalahan dari Truman.Dalam perjalanan ke St Louis, dia disuguhi satu edisi Chicago Daily Tribune dengan judul ”Dewey Defeat Truman” itu. Saat itulah sebuah foto surat kabar paling terkenal abad ini diambil, yaitu ketika Truman mengangkat koran tersebut.