Showing posts with label I don't wanna grow up. Show all posts
Showing posts with label I don't wanna grow up. Show all posts

Sunday, March 22, 2009

me vs mom ... aarrrgh...

Fara itu memang baru sepuluh tahun. Tapi penampakannya sudah kayak anak gede. And poor me, aku baru nyadar kalo dah punya anak gadis, kemaren.
There’s a boy next door. And I really think he’s cute. Bronis gicu deh. Kemaren waktu aku boncengin Fara naik sepeda ke sekolah, dari kejauhan aku lihat dia berjalan berlawanan arah dengan kami. Hmm… Si Cakep. Aku sungguh selalu ingat pada wajahnya, so sambil semangat empat lima ngegenjot sepeda, dari jauh aku dah pasang kuda2 utk senyum manis. Tentu saja ga ada maksud apa2, cuma seneng aja liat dia. If I were fifteen or twenty years younger, he’s my type, that’s all. Kami akhirnya berpapasan, tapi tau nggak, senyumku yg sudah tersungging dalam radius satu kilo meter ternyata digaringin. Kurang a*ar. Ga sopaaaan. Tapi… dia memang memandangi kami, cuma melongo terkesima tak berkedip menatap seseorang di belakangku. And all at a sudden I was just realized there’s my daughter behind my back ! Yang pasang wajah cemberut sambil bersungut-sungut karena merasa jok belakang sepeda terlalu keras untuk menaruh pantatnya… Fara… Fara … respon dikit kenape ? kok jadi Mama yang deg2an ..Aarrrghh ... I swear I’ll teach her to smile next time we bike 2 school…. hehe …

Tuesday, December 9, 2008

Selalu ada sebuah pagi yang indah di hari Sabtu...

Setiap Sabtu ada sebuah pagi yang indah. Melawan malas, menyesali jam tidur yang terlalu banyak tadi malam, memaki setan2 kecil bertanduk yang terbang menari-nari membisikkan mantra di dekat telingaku dan telah membatalkan niat muliaku sholat Tahajud, berkelahi dengan keinginan berlama-lama membaca pending Kompas Jumat, putus asa menghitung jumlah artikel menarik yang belom kebaca sementara jarum pendek jam dinding rasanya makin cepat aja menggeser tubuhnya yang ramping mendekati angka enam, berupaya enggak terpaku di depan Metro Pagi sambil nyeruput susu milo buatan Mama, berjingkat-jingkat agar enggak sampe bangunin Anggas kecilku yang masih ngowoh di balik selimut yang begitu melek selalu ditendangnya dengan kaki-kaki gendutnya, naik ke kamar atas mencari kaos kaki yang entah kenapa selalu lupa aku titipkan di lemari abu-abu bawah tangga punya anakku sehingga pas mau pakai sepatu selalu harus naik tangga ke kamar atas lagi untuk mengambilnya, mendengarkan pidato pagi Mama kepada Nurul asisten pribadinya untuk agenda hari itu….
Setiap Sabtu ada sebuah pagi yang indah.
Ketika aku berhasil melalui semua rintangan berat itu, dan melangkah dengan sepatu olah raga yang solnya sudah dua kali dilem ibuku sepanjang tiga bulan ini (sudah waktunya diganti, hampir seumur Fara anakku, tapi masih mati-matian dipertahankan oleh ibuku, curiganya agar beliau punya kado istimewa di ultahku bulan depan) menuju jalan aspal mulus komplek yang menyenangkan itu. Tiga dari empat Sabtu dalam sebulan, biasanya dalam 1 menit aku akan kembali ke depan pintu rumah, berteriak pada Fara agar mengambil jam tanganku yang tertinggal yang aku butuhkan untuk hitung 20 menit non-stop waktu lari pagiku.
Setiap Sabtu ada sebuah pagi yang indah.
Menghirup udara segar, menyapa satu dua tetangga yang berpapasan yang tidak pernah aku kenal betul namanya, membalas teguran Satpam yang berkeliling, mengamati wajah bayi atau balita yang tergeletak pasrah di kereta dorongnya ditemani baby sitter yang sibuk dengan hp-nya, mengagumi warna2 segar sayur dan berjenis-jenis kerupuk kampung dagangan tukang sayur keliling yang mangkal di dekat pagar komplek, melamunkan semua kejadian sepanjang minggu lalu dan membayangkan semua kejadian serta problem yang mungkin menyertainya sepanjang minggu depan. Hals yang manis, yang nyebelin, mondar-mandir di otakku sementara aku ga bosan-bosannya memandangi daun pohon asem yang berbaris rapi di sepanjang pagar komplek dan …. ups ! aku menabrak sesuatu !
Sebuah kepompong. Dengan ukuran sangat minimalis. Namun setelah aku perhatikan, ternyata ada banyak sekali bergantung2 dengan benang halusnya dari dahan2 pohon asem. Bahkan menempel di sepanjang dinding pagar. Mungkin itu sebabnya Fara sering menemukan kotoran di rambutku setelah lari pagi. Kepompong. Hmmm… Langsung terngiang-ngiang lagu Persahabatan Bagai Kepompong yang beberapa hari ini diputar tiap pagi oleh Pak Toni temen sekantor. Aku suka banget liriknya. Sederhana, manis, dan rada2 Déjà vu buatku, he he ..
Kulihat Anggas menyusulku di kelokan dekat rumah. Kuajak dia melihat sahabat baruku, kepompong2 imut yang bergelantungan struggling for their life di pohon2 itu. Kuminta dia memperhatikan daun2 pohon yang menguning. Karena Senin adalah Idul Adha dan Anggas berkali-kali menyebut term baru ‘Qurban’ tanpa memahami maknanya, kucoba mencontohkan dia sekenanya arti sebuah pengorbanan, dari pohon yang daunnya meranggas di makan ulat. Demi kelangsungan hidup ulat, pohon ikhlas melakukan pengorbanan (matching ga ya, contohnya ? he he …). Kujelaskan bahwa ga semua kepompong itu akhirnya berhasil menjadi kupu-kupu. Lihat saja berapa yang nyangkut di rambut Mama setiap minggu dan hidupnya berakhir di keranjang sampah. Dan celoteh serta khayalan kami terus berlanjut.
“Dari sepuluh, paling cuma lima yang jadi kupu2.”
“Ih, kasian dong.”
“Kira-kira kalau jadi kupu2 semua, gimana ?”
“Komplek akan penuh dengan kupu2 kecil”
“Kita ga bisa buka pintu rumah, karena udara dipenuhi kupu2 kecil dan mereka akan menyerbu masuk begitu pintu dibuka.”
“Kita ga bisa keluar naik mobil, karena jendela mobil akan dihinggapi ribuan kupu2 sampe kita ga bisa liat jalan.”
“Apa sih Ma, binatang pemangsa kupu2 ?”
“Hmmm… Burung kali ya.”
“Kalo gitu kita harus punya burung2an mainan di mobil Ma, jadi kupu2 akan takut melihatnya dan menjauhi mobil kita.”
“Anak pintar.”
“Yes ! Dedek menang… “
Anggas terlihat antusias dan senang bisa solving the problem dengan ide mainan burung2annya. Aku juga senang. Menikmati wajahnya yang bersemu merah karena hangat matahari pagi. Menghapus tetes2 keringat di dahinya ketika wajah curious-nya menatap lekat2 benang2 kepompong yang berkilauan keemasan tertimpa sinar matahari. Kalo dah gini aku ga habis pikir... gimana mungkin Ibrahim sanggup hendak menyembelih Ismail ? (hehe ... that's why you are not chosen as Nabi Yud ...) Beberapa hal yang bisa aku renungkan.
Pertama, selalu ada solver buat setiap problem. You’ve gotta believe it. Bahkan pemikiran sederhana seorang Anggas membuktikannya. Kedua, ga semua kepompong bisa mengubah ulat menjadi kupu2. Demikian pula persahabatan. Persahabatan bagai kepompong. Hal yang tak mudah berubah jadi indah. Persahabatan bagai kepompong. Maklumi teman, hadapi perbedaan. After all, aku sungguh berharap, semoga semua kepompong persahabatanku, bisa mengubah ulat menjadi kupu2….. menjadi sesuatu yang indah, sama seperti harapan sekaligus keyakinanku bahwa akan selalu ada sebuah pagi yang indah di setiap Sabtu-ku. Aaaamiiinn ….

Sunday, October 26, 2008

sholat jamaah

bulan puasa 1429 H kemaren aku mulai biasakan sholat jamaah ... utk pmulaan cuma magrib aja sih .... (terus terang selama ini ga pernah jamaah ... he he ... keluarga yang aneh ya ?)
aku imam, fara dan anggas di belakangku ... ada yang lucu, setiap aku takbir (Allahu Akbar) kok fara mengikutinya ga cuma sekali, tapi berulang2…makin lama nadanya kian keras bahkan cenderung ngebentak gitu ... hi hi ...
selesai sholat baru aku nyadar ... rupanya anggas males2an ga ngikutin aku ruku atau sujud...
ngerasa ga bisa ngomel dalam bhs indonesia ... maka fara kasih teguran dengan allahu akbar berulang2 keras2 ... (aku rasa sambil melotot juga kali .. he he ..)...

monster of the month

suatu siang anggas menggambar dg tema monster ...
monsternya ada dua, secara garis besar bentuknya berupa bulatan besar dengan mata banyak, tangan banyak, kaki banyak, tapi tanduknya (yg mnrtku adl ciri khas monster... atau devil ya ? he he ..) malah cuma dua .... warnanya pun ngejreng2 ... di msg2 gambar dikasih judul/nama monster ... yang satu DONSUN (nak .. nak... maksudnya DILARANG CIUM, gitu ya ?) satunya BATSSUBURA (ini plesetan batubara kalee ... he he ..)
btw anggas kmrn juga gambar banyak ikan ... di antara semuanya, ada satu yg paling dia suka ... aku ngernyitkan alis liat bentuknya ... lele bukan, frankenfish juga bukan ... puanjaaang ... dan giginya runcing2 gede ... waktu aku tanya namanya ... "Ikan Keren" bisiknya ... "ini ikan yang Dede plg suka Ma !" ... hehe ... anggas, you are my cute scarry little monster ...

Saturday, October 18, 2008

mimpi anakku

BSD, 16.10.08
Pagi ini Fara terbangun dan ga biasanya banget langsung duduk dengan mata berkaca-kaca. "Fara mimpi kiamat Ma" katanya serius. Kemudian bergegas ke kamar mandi berwudhu untuk sholat Shubuh (tanpa nunggu lengkingan perintahku dulu, coba, tumben banget .... !) "Ketika Fara lagi nungguin keputusan apa masuk sorga atau neraka, Fara bangun Ma ... Fara mau rajin sholat ah ..." celotehnya sembari memasang mukena. Hmm ... we'll see, honey ....

Ketika Tuhan Pulang Malem ....

BSD, 21.08.08
Sbg pegawai bni sekaligus emak2 yg parah bgt manajemen waktunya, aku ga bisa sering2 komunikasi ama kedua malaikat kecilku, terutama si kecil, Anggas (4 th) karena pas aku nyampe rumah biasanya dia dah meringkuk di balik selimut spiderman-nya sambil mulut kecilnya ngowoh lucu banget. Oleh krn itu tiap pagi sebelum ke kantor kusempatkan mandiin dia dan lima belas menit acara mandi itu selalu jadi ajang ngobrol yang seru bersamanya. Coba simak pagi ini obrolanku sama dia. Kebetulan kemarin aku tugas ke Bandung dan sempat ke FO beliin dia kaos dan celana pendek.

“Ma, kenapa Mama beliin Dede baju?”
“Karena Mama sayang ama Dede”
“Tuhan itu bentuknya seperti apa sih Ma?”
“Kenapa tiba2 Dede tanya kayak gitu ?”
“Dede kan sayang sama Tuhan”
“Dede pengen beliin Tuhan baju”
“Tapi Dede ga tahu badan Tuhan segede apa”
“Sayang, Tuhan ga perlu baju atau sepatu”
“Kenapa Ma?”
“Tuhan Maka Kuasa, Dia sudah punya semua”
“Enak dong Ma, jadi Tuhan”
“Hmmm… enggak juga … kerjanya buanyaaak …”
“Ngapain Ma?”
“Dia kan musti mikirin banyak orang di dunia, ngabulkan doa2 mereka …”
“Berarti pulangnya malem terus dong Ma ?”

(Ups ! Mati akuuuuu …… !!)