Showing posts with label ...and the oscar goes to .... Show all posts
Showing posts with label ...and the oscar goes to .... Show all posts

Saturday, January 17, 2009

A Good Year, License 2 Wed, August Rush, Lion 4 Lamb, Turtles Can Fly

Comments from Golden Globe Award versi Versailles ... hehe ...
License 2 Wed (Robin Williams) : cukup menghibur sbg film dg genre komedi romantis.
A Good Year (Russel Crowe) : gambar yang indah dengan setting perkebunan anggur di pedesaan Perancis, akting yang kuat dari Crowe, cerita yang apik.
August Rush (Robin Williams, Keri Russell): Cerita cukup mengharukan, tapi ending-nya terlalu datar shg krg klimaks.
Lion for Lamb (Meryll Streep, Robert Redford, Tom Cruise): ngeliat bintangnya sih ... wow ! tapi baru mo nonton ntar malem...
Turtles Can Fly : karena kelewat di Metro, aku bela2in beli DVD di Khatulistiwa Online... baru mo nonton juga hari ini bareng fara...

Wednesday, January 7, 2009

Gracie's Choice... A Lifelong Fight ...

When Reader's Digest ran their story in 2000, hundreds of readers sent donations to help this fledgling family stay on its feet. Since then television viewers were able to watch the brothers' lives unfold in the Lifetime movie Gracie's Choice, based in part on their story.
Gracie's Choice is a 2004 television movie that premiered on
Lifetime. This movie stars Kristen Bell as Gracie Thompson, Anne Heche as Rowena Lawson (Gracie's mom), and Shedrack Anderson III as Tommy (Gracie's boyfriend.)
An inspirational story about a teen hero found a way to keep three brothers from being separated. Imagine growing up with a neglectful, drug-addicted mother and three brothers who are about to be scattered to foster homes. This teenage hero found a way to keep them together: Adopt them.
It's not because you claim you love your children, you actually love them. This is the premise for Gracie's Choice. How the person that gave birth to you betrays you, makes your life miserable, this is what this movie is about, and how to overcome all that.
For as long as she can remember, 16 year-old Gracie has been raising her four siblings, each of whom has a different, absent father — and their mother is on the fast track to self-destruction. When these children's lives are about to be pulled apart, Gracie will have to do the impossible and make the ultimate sacrifices to keep her family together. At the age of 17, she decides to be the mother, emotionally and legally, her siblings never had. Inspired by actual events, this movie is sure to touch your heart.
Beat an A- from Yahoo Movie, here below some comments about this great great great movie :
"You got to watch this!!!a very meaningful movie, which kept me watching it from beginning till the end."
"An amazing movie, really! this unknown movie should be getting a lot more notice by people!people do not know what their missing out on! great story, great cast, very interesting plot!its worth your while- much more then many high budget movies!"
"A great movie one of the best of all times."
"This was the best lifetime movie ever.And it had a great cast.Kristen Bell did an awesome job in this film."
Yudhi wrote : Perjuangan dan pengorbanan yang luar biasa. Adegan paling mendebarkan adalah ketika adik2 Gracie diberi kesempatan memilih oleh Hakim, apakah akan ikut Ibu atau Kakaknya. Dengan berbagai alasan yang menyentuh, masings mereka akhirnya memilih Gracie,kakaknya. Adegan mengharukan lain adalah saat mereka berempat kakak beradik hanya diberi waktu beberapa menit untuk memilih nama keluarga baru mereka oleh Hakim. Ada yang mengusulkan "How about Potter ! Like Harry Potter!".Ada lagi yang mengajukan Lobo (nama kucing mereka). Akhirnya mereka memilih Whetherly, dari papan nama pejabat di dinding ruang pengadilan.

Monday, December 15, 2008

Celebrating Indonesian Cinema-goers... (Jiffest 2008 Pt. 2)

Memasuki tahun 2000-an kita melihat perkembangan yang menggembirakan dalam industri film Indonesia. Film-film Indonesia saat ini ditonton sebanyak 3 sampe 5 kali lipat jumlah penonton Indonesia pada awal 1990-an. Wiii... hebat ya...
Film Indonesia mulai menunjukkan lagi 2 faktor terpenting dalam suatu industri : tumbuhnya bakat-bakat pembuat film baru dan penonton yang berdatangan kembali ke bioskop untuk film Indonesia.
Kesepuluh film Indonesia yang diputar di Jiffest – yang merupakan 10 film Indonesia terlaris selama sepuluh tahun terakhir - mengumpulkan antara 1.3 sd >4 juta penonton di bioskop. Sekedar perbandingan naïf, kalo satu kursi DPR RI harus didukung 300 ribu pemilih, maka lewat jumlah penontonnya aja setiap film tsb bisa punya antara 5 sd 18 wakil di DPR.... hehe ..
Sepintas ini seperti lelucon. Tapi menonton film dan ikut Pemilu sama-sama melibatkan peristiwa memilih yang berlatar selera dan kecenderungan ideologis, hihi ... mgkn itu sebabnya sejak tahun lalu Presiden dan calon2 anggota parlemen Indonesia beramai-ramai menonton film (
Lisabona Rahman (Kineforum) & Eric Sasono (YMMFI))
Tapi benarkah celebrating Indonesian cinema goers ini adalah perayaan telah bangunnya kembali sinema Indonesia dari tidur panjangnya ? Pls jawab setelah menyimak judul2 yang belakangan marak dibioskop kota anda : Mas Suka Masukin Aja, Kawin Kontrak Lagi, Kutunggu Jandamu, atau Merem Melek … Hmmm … Are you sure ?

Tuesday, December 9, 2008

Ketika dua bidadari BSD kesasar di Holland ...

Ini ide rada sinting. Tapi kudu diwujudkan. Apa salahnya sekali-kali korupsi waktu ots untuk kesenangan pribadi. Kalo mo cari pembenaran ya anggap aja nambah wawasan dan (siapa tau) kenalan untuk dijadikan prospek pasar tahun depan. Toh bukan ke mall seperti yang dilakukan rekan2 lain, he he …
Ada Jiffest dalam beberapa hari ke depan. Aku dah lama banget pengen nonton film festival, yg konon kata seorang teman beda ama film2 komersial biasa. Kalo aku yang awam ini sih, masih percaya semua film tu tergantung ketenaran pemainnya. So, ogah banget nonton film yg ga jual bintang. kecuali memang terbukti telah dapet penghargaan.
Berniat ngebuktiin, aku merealisasikan kejahatan terencana ini Jumat lalu. Ada jadual di Erasmus Huis. Judulnya Cherry Blossom – Hanami. So, bersama Olive, temen kantor yang di mejanya sering berserakan novel dan tiap ke mall yang dicari adalah DVD, aku ots ke Cabang, pura2 minta rekening Koran, kemudian agenda berikutnya… yup ! bersenang-senang ke komunitas Londo di daerah Kuningan.
Kami dating lebih awal. Perut belum diisi karena kuatir ga kebagian tiket. Ternyata ada Café H.E.M.A (ga ngerti juga artinya, atau singkatan apa ya ? “Holland something kali….”). Baca menu, pokoknya pilih yang ejaannya ada bau2 Kumpeni-nya geto, he he … akhirnya aku pilih Poffertjes with ice cream dan Olive pilih Pannekoek with maple syrup. Biar rada nendang, Olive nambah Bitterballen with mayonnaise sedang aku, atas saran Olive milih zuppa2 soup. Untuk minum Olive pilih menghirup Holland Tea dan aku Holland Juice (mix, ga jelas apa aja isinya, pokoknya Huup Holland ! hihihi … ) Tempatnya lumayan cozy, dengan kanan kiri terdengar tante2, oma2, ngobrol dengan bertaburan ekke, yey, ney, wuaaah … kalo ga ngeliat keluar kaca jendela ga berasa lagi di Kuningan deh, he he … Norak ya ... biariiinn...
Ada pameran lukisan Paul Husner dengan tema “From Batavia to Jakarta”, pengen banget liat tapi kami tunda karena film segera dimulai. Ternyata seat ga penuh. Kali karena hari kerja, jam 14.30 pula … siapa juga yang bisa minggat jam segitu dari aktivitas kantor kecuali kami, bidadari2 kesasar dari BSD … he he …
Diawali dengan gambar yang indah. Pemandangan cantik sebuah pedesaan. Bebek, kincir, kucing, bunga tulip, tali dipenuhi jemuran pakaian dengan background musik Londo banget. Perlahan seluruh asumsiku tentang film dan bintang beken rontok. Satu-satu. Malu-malu. Buset, ini film bagus banget !!
Setting di Berlin dan Tokyo. Kisah mengharukan. Adegan yang ga rumit blas. Diambil dari kacamata orang biasa. Hals sederhana dalam kehidupan sehari-hari yang diangkat dan menjadi sesuatu yang terasa ‘sweet’ secara natural. Hals remeh yang ga bakal terekam dalam pembuatan film komersial umumnya. Luar biasa !
Ceritanya tentang hubungan suami dan istri, orang tua dan anak, kakak dan adik, dan persahabatan, human loves human : tanpa mengenal perbedaan usia. Seorang suami ditinggal mati istrinya dalam perjalanan mereka menengok anak2 mereka yang masings sudah punya kehidupan sendiri di kota dan cenderung merasa terganggu dengan kunjungan orang tuanya. Sepeninggal istrinya yang sangat care dan sangat mencintainya itu (‘mencintainya’, bukan ‘dicintainya’) sang suami merasa kehilangan yang besar (one thing pop up to my mind is a quetion, just a simple question : adakah kehilangan sebesar itu akan dirasakan aku atau bojoku bila saatnya tiba kelak ? hiks ...) dan berniat mewujudkan keinginan istrinya untuk melihat Gunung Fuji di Jepang. Si istri ini tadinya adalah seorang Butoh Dancer (butoh = tarian Jepang) namun selama perkawinan mereka ga dapet kesempatan untuk mengembangkan diri. Seorang anak mereka (kesayangan sang istri) bekerja di Tokyo dan sang suami akhirnya memutuskan mewujudkan obsesi istrinya, terbang ke Tokyo bersama ‘sweater, kalung, dan kimono istrinya’ dengan tujuan memperlihatkan bunga sakura dan gunung Fuji pada ‘benda2 milik istrinya’ tersebut. Di Tokyo, tidak mendapat perhatian dari anaknya yang disibukkan oleh pekerjaan, si babe akhirnya berkenalan di sebuah taman dengan seorang butoh dancer berusia 18 tahun, pramuwisma yang baru ditinggal mati bundanya. Mereka bersahabat dan sempat melihat Gunung Fuji sebelum sang suami meninggal dalam kostum tari istrinya dan dandanan seorang Butoh Dancer.
Beberapa adegan sangat natural. Coba lihat cucu yang mijitin Kakeknya sampe merasa capek dan sebagai tanda terima kasih dihadiahin duit receh ama Neneknya sambil menaruh jari di bibir agar merahasiakan dari kakeknya. Ketika sang Kakek membalikkan badan, sang cucu menyembunyikan duit tsb dan sang Nenek menyembunyikan dompetnya, serempak ke ketiak masings… hihihi … Atau cucu2 yang sibuk dengan gameboy masings di tangan tanpa mempedulikan kakek neneknya yang baru masuk rumah dijemput ayahnya dari stasiun kereta…. Well, every child is just the same everywhere in the world … he he …
Adegan manis lain … ketika suami istri tersebut jalan-jalan melihat laut, cuaca sangat berangin dan sang suami lupa ga pake jaket. Sang istri melepas satu lengan sweaternya, memakaikannya ke satu tangan suaminya sehingga mereka memandang laut dalam balutan satu sweater berdua… so sweet …..
Banyak adegan lain begitu mengharukan. Coba lihat ketika sang ibu sedang menyeterika dan karena kangen pada anaknya di Jepang menitikkan air mata di atas sapu tangan yang segera dikeringkan dengan seterikanya… Jujur, aku pernah mengalami kejadian persis seperti itu… hiks …
Atau ketika sang ayah mencoba memasakkan sarapan dan bekal ke kantor untuk anaknya, persis seperti yang setiap hari disiapkan istrinya untuknya. Cabbage roll, kentang dan sebuah apel. “Your Mom’s recipe” katanya dan betapa anaknya tiba2 tersedu2 memakan sarapan tersebut. Dan malamnya, sepulang dari kantor anaknya mengeluarkan bekal apel yang belum dimakan hari itu, persis yang dilakukan sang ayah terhadap bekal yang dibawakan sang ibu setiap hari. “An apple a day, keep the doctor away” kata istrinya selalu…
Atau ketika sang suami berusaha menjelaskan apa itu cabbage roll kepada sahabat barunya si gadis butoh dancer. Akhirnya mereka menemukan contoh yang tepat dengan masings menggulung badan dengan tikar plastic tempat mereka leyeh2 di taman dari kedua sisi tikar yang berbeda hingga bertemu di tengah2. Diambil dari atas, jadi lucu banget ngeliatnya, kayak acara Jepang, Masquerade di teve itu lho. Dan sedihnya, setelah pembakaran jasad sang ayah, gadis butoh dancer itu menunjukkan buku menu yang ada gambar cabbage roll-nya kepada sang anak sembari membisikkan “Your father and your mother”…
Dan yang paling mengharukan adalah ketika di Tokyo sang suami selalu memakai sweater, kalung dan rok hitam polka dot istrinya di balik mantel panjangnya. Dengan cara itu dia ‘mengajak istrinya’ sightseeing around Tokyo, nikmati indahnya Sakura, bahkan meletakkan kimono istrinya di sampingnya dengan posisi yang sama tatkala merebahkan diri di tempat tidur setiap malam, seakan2 mereka masih selalu tidur berdua. Sedih ga sih…
Pengen ngajak Mama nonton, yakin perasaan Mama pasti bakal terobok-obok inget alm Papa kalo liat film ini. Tapi sulitnya anak2 ga bisa diajak, ada adegan 17 tahunnya … aku mo bilang apa kalo Fara liat adegan sang ayah nonton striptis dan dimandiin dua gadis telanjang walau akhirnya termehek2 keluar bathroom tanpa menikmati blas… atau adegan cium bibir salah seorang anak perempuan mereka dengan pasangan lesbinya ? Btw, pasangan lesbi si anak ni cantik banget dengan rambut panjang blonde-nya (walau gayanya tomboy dan tampaknya berperan sbg ‘sang lelaki’) dan baek banget lho. Satu2nya yang ikhlas nganterin mereka muter2 kota, satu2nya yang mengapresiasi dan sediakan tissue untuk sang ibu waktu terharu nonton butoh dancing, dan satu2nya yang hadir menemani sang ayah saat penanaman gentong abu jasad alm sang ibu di desanya…
Suer... what a beautiful movie ! Agenda berikutnya dengan mbak Olive adalah … nonton pameran foto World Press minggu depan di Pacific Place … he he … Can’t wait ….

Tuesday, October 21, 2008

she's the one

pemeran utama : ga jelas
ringkasan cerita :
2 kakak beradik cowok yg beda satu sama lain ... sang adik, menikah, sukses tp ga py hati, kakaknya, bujangan, sederhana, sweet guy yg bahagia dg hidupnya sbg taxi driver. suatu hari sang kakak menemukan tambatan hatinya. hanya dari perkenalan di taxi, dalam sehari mereka mutusin utk menikah. adiknya, yg punya selingkuhan di samping istrinya yg kehitung sempurna (cantik, baik, anak org kaya..diperankan jennifer aniston) ga habis pikir, dan akhirnya learn something dari kakaknya itu. ada juga kisah2 lain ttg hub kedua ortu mrk.
dialog/adegan yg keinget :
satu, romanticism can't pay a rent, kt sang adik sama istri kakaknya.
dua, istri sang adik sampe punya vibrator krn suaminya dah lama bgt ga menyentuh dia, walau dia sdh coba dg lingerie sexy dll... sayangnya dia ga py bayangan sama sekali bhw penyebabnya adalah seorg wanita lain ... dia cuma curiga suaminya punya masalah dengan kesehatan, atau bahkan ternyata seorang gay.
tiga, coba, kurang ajarnya sang adik membandingkan selingkuhannya dengan istrinya ... waktu dia ngaku ke bokapnya "setelah mengendarai brand new porsche, maka aku musti kembali mengendarai Buick 1974-ku?" ... dasar laki2 ...
nb:
nonton sendirian di malem lebaran habis nyiapin ketupat buat besok paginya (bukannya takbiran he he ...)... kisahnya simpel, tapi ada sesuatu yang bisa bikin bertahan di depan teve walau dikerubutin nyamuk...

Freedom Writers

pemeran utama : hillary swank
ringkasan cerita :
based on true story, ini kisah seorang guru junior yang diberi jatah sebuah kelas dengan anak2 spesial dari berbagai etnis yang ratas punya masalah dengan gank.
begitu totalnya pengabdian sang guru utk menaklukkan murid2nya, sampe2 dia mengorbankan perkawinannya.
belum lagi tantangan dari lingkungan kerja, guru2 senior yang pesimis sanggup merubah perilaku anak2 itu.
sedikit dimasukkan juga tentang relationship-nya dengan ayahnya.
the best part :
satu, waktu hillary minta murid2nya mlkkn game "stay on the line". siapa yg punya persamaan thd statement yg disebutkan hillary, maju ke garis di tengah2 kelas, diam sesaat hingga hillary ksh perintah utk mundur lagi ke tempat msg2.
game ini ampuh bikin mereka nyadar banyak kesamaan di antara mereka, terutama masalah gank spt statement hillary : "stay on the line, if you got friends who was killed in a gank war" dan diakhiri dengan "I want all of you to tell their name one by one, to give them our respect", dan anak2 bengal itu, di tempat berdirinya msg2, berlinangan membisikkan nama teman2nya yang mati akibat perkelahian gank.... merinding tau ga sih ....
dua, waktu hillary kasih buku tulis bekal mereka numpahin semua curhatnya, dan sediain lemari utk mrk ksh kesempatan hillary baca tulisan mrk, dan mrk ngerasa aneh dan enggan banget dan ngeremehin ide itu...., tyt ketika hillary di akhir kelas dengan deg2an coba buka lemari itu, wuaaah ... bertumpuk buku yg harus dibacanya, akhirnya semua pengen sharing dg bu gurunya... dan terungkaplah semua cerita2 terpendam mereka... kebayang ga sih, anak2 sangar bertattoo, mainannya narkoba, tapi tiba2 ketagihan menulis dengan gaya tulisan masings di buku tulis sederhana hadiah dari bu guru mereka ...
nb :
yg ngomporin utk nonton : fara. dan satu lagi yg terngiang2 terus di telinganya adalah saran hillary utk enggak jauh2 dari ballpoint, agar sewaktu2 bisa menulis apa yg muncul di kepala kita. fara sampe nonton tiga kali, dan memberi nama blognya dg judul film ini. dia begitu terkesan dengan msg2 tokohnya, dan wondering spt apa mrk sekrg...
aku ? seneng banget karena fara tampaknya bakat jadi komentator film....