Showing posts with label Loose Clues. Show all posts
Showing posts with label Loose Clues. Show all posts

Sunday, March 22, 2009

Nek gak dipepet gak metu ...

Seni nyetir mobil jarak jauh atau luar kota adalah, ga bisa liat ada mobil di depan kita. Mau lewat jalan tol atau jalan biasa, tujuan ngebut sama, hanya saja konsentrasinya beda.
Di jalan tol, terutama saat macet, harus rajin memilih, piawai memutuskan berpindah-pindah dari satu lajur ke lajur lain yang kira2 bakal gak mandek sehingga ga salah kita bayar di pintu tolnya karena emang ‘terasa bebas hambatan’… hihi…
Di jalan biasa, situasinya lebih menantang, adrenalin lebih deras, so kepuasannya jelas lebih gede. Harus terus menghitung jarak, waktu, sempitnya badan jalan dan kemampuan lari mobil kita. Dan ketika perhitungan jarak dan waktu dengan mobil dari arah lawan sangat mepet, darah serasa sekejap brenti mengalir tapi kita berhasil nyalib… zoooommm …. wrooommm …. wuaaahhhh … puasnya luaaarrr biazzaaaa …. apalagi kalo diiringi klakson marah atau lampu sewot dari mobil tersebut …. hehe … More … more … more .. !!
Buatku, kebiasaan buruk mepet2 ini rupanya udah bawaan bayi. Sejak kuliah sampe kerja. Pas kuliah, belajar buat ujian pasti sistem kebut semalem. Pas kerja, mo berangkat kantor pasti jamnya mepet2… akhirnya sarapan dibawa di mobil, pake lipstick dan bedak pas lampu merah.
Sama juga dengan nggarap kerjaan. Santai2 dulu, pas dah mepet deadline, ide2 baru bisa keluar. Padahal hasil pekerjaan pasti akan lebih bagus kalau sudah kelar awal2 dan sempat dipermak sana-sini.
So, gimana caranya ya, ben masio gak dipepet tetep iso metu ? hehehe …

The Secret, by Ronda 'Anggas' Biarin

‘Ma, Dede punya rahasia.’
‘Apaan ?’
‘Kalo Mama lagi marah, Dede tau gimana caranya bikin Mama senyum lagi.’
‘Oya ? Gimana coba ?’
‘Dede bilang kan itu rahasia !’
‘Hmm…’
Aku tersenyum menatap wajahnya lekat2. Sumpah aku selalu suka pada binar matanya, bibir mungilnya, selalu suka membelai bulu2 kecil di pipi dan kupingnya serta anak2 rambut di keningnya…
‘Ma.. Ma.. bisa nyimpen rahasia nggak ?’
Wajahnya serius. Aku membuat gerakan mengunci pintu di depan bibirku dan melempar anak kuncinya jauh2 … ‘Zwiiingg … !!’
‘Kalo mama marah.....'
'Dede harus ngomong yang lucu2...'
'Atau bikinin Mama gambar. Tapi kertasnya harus dipenuhin dan warnanya harus macam2 … pokoknya seperti kesukaan Mama ‘
‘Terus, Dede juga ga akan minta diajak Mama jalan-jalan ke mana2’
‘Karena Dede sudah tau, jawabannya pasti ‘Nanti kalau pekerjaan Mama sudah selesai’, atau ‘Nanti tunggu Papa datang’'
‘Terus, kalo bobok bareng Yangti dan Mama, Dede ga akan miring menghadap ke Yangti, Dede akan miring menghadap ke Mama... Mama suka kan...’
Tiba-tiba aku merasa sesuatu yang hangat menggenang di ujung mataku…..
‘…………………………………………………………….’
Honey, how come ? You know me better than I know you ...

kejang jiwa

Waktu Fara denger adiknya yang sakit perut didiagnosa kejang usus (istilah yang aku baru denger, tapi Alhamdulillah ga parah sih) oleh si dokter, dia mengernyitkan alis dan serius berbisik, “Dear Mom, I really think you should see the doctor too, cause with all your scream at me almost everyday, you might have gejala ‘kejang jiwa’ …” .. Glek !!

Wednesday, January 7, 2009

fara's "friendly fire" ...


Ribut2 masalah ‘friendly fire’ yang menimpa pasukan Israel di Jalur Gaza, aku merasa kena ‘friendly fire’ pagi ini. Fire from my own religion forces theory. Kena tembak anakku ketika kisah2 nabi yang pernah kami pelajari menjadi banci dipersandingkan dengan teori evolusi.
Pagi tadi Fara masuk ke kamarku. Sudah berbaju seragam kotak2 sekolahnya, dengan wajah penuh tanya, seperti selang air yang ditutup ujung lubangnya namun akhirnya airnya nyemprot keluar juga …
“Ma, kalo benar kita semua anak cucu Adam, kenapa ada Orang Cina, India, Arab, Amerika, Afrika ?”
Aku terdiam sejenak. Mencerna pertanyaan barusan. Ooh … tentu saja anakku mempertanyakan kenapa keturunan Nabi Adam berbeda2 kulit warna dan bahasanya. Hmm… kelas empat SD seharusnya belum belajar tentang Teori Evolusi. Tapi kenapa pertanyaan sulit kayak gini sudah bertengger di otaknya sih ?
Aku jelaskan sedikit ttg Teori Evolusi yang aku juga dah lupa persisnya. Intinya bahwa bentuk fisik makhluk2, termasuk manusia dipengaruhi oleh lingkungan, kebutuhan dan alamnya. Kemudian, aku minta dia ga bayangkan Nabi Adam dengan penampakan kayak kita sekarang ... kemungkinan penampilannya ala purba krn memang melalui era tersebut ...
Dan aku jadi melongo keliatan bego banget waktu Fara protes : "Gimana Mama menjelaskan kisah Habil dan Qobil (itu anak2 Adam ya ? hehe baru tau) yang sudah hidup menetap, gembalain sapi dan melakukan penguburan terhadap sodaranya yang meninggal ? "
Tergagap-gagap aku bilang secara (ga) jujur, pertanyaan yang sama sebenarnya juga mengganjal pikiran Mama sesekali. Aku janjikan dia untuk mencari tahu, sambil dalam hati mulai merasa pijakanku goyang dengan cerita Nabi2 yang pernah kudengar. Kok ga matching sih ?
Hari itu aku browsing di internet, dan (sementara) menemukan bahwa kedua teori tsb – Teori Evolusi dan Agama – memang bertentangan. Kesimpulan suggest-nya adalah, jangan membahas kedua teori tersebut pada saat yang bersamaan. Itu dua hal yang berbeda so harus dibicarakan secara terpisah.
What ? How come ? Why ? Aku termasuk orang yang rada mendewakan logika. Everything should be explained logically. Ada yang sarankan baca komik Larry Gonnick “Sejarah Peradaban” utk dapet jawabannya. Sementara begitu pulang ngantor, Fara langsung nagih janji penjelasan ke Mamanya. Fyuh… Somebody please help me …

Saturday, November 29, 2008

Citi, eh, Siti never sleeps ...

These days, banyak tamu di rumah. Semua orang ketawa-ketiwi. Satu orang yang aku kasian. Siti pembantu kami. Tidurnya menjadi lebih malam, cucian piring menjadi ga habis2, masak ga ada rampungnya, kalo aku jadi dia, asli pasti aku dah butuh pijet … Salutnya dia tetap tersenyum… Andai aku yang boleh ngatur semuanya (seharusnya sih boleh, this is my own home), aku akan memastikan bhw semua aktivitas yang membutuhkan tenaga Siti harus dilakukan sebelum pukul 8 malam. Setelah itu, She’s free. Bahkan semua aktivitas pun harus menyesuaikan dengan acara Suami-suami Takut Istri, kegemaran Mbak Siti yang tayang pada pukul 6 sampai 7 malam. Deeply sorry Ti, still can’t do that 4 u …

Sunday, November 2, 2008

Boo .... !!

aku sedang lari pagi di halaman komplek. ada seorang anak muda keluar dari salah satu rumah yang kulewati. tuit-tuit,bunyi alarmnya, lalu ia membuka pintu mobil, menghidupkan mesin dan diam di mobil beberapa saat untuk memanaskannya. tampaknya belum mandi, pakai baju ga terlalu rapi, mungkin mo olah raga. walau ga ada keliatan bawa peralatan dan perlengkapannya. bisa jadi sudah tersedia di bagasi mobilnya. tennis ? atau renang. atau ke gym. atau golf. atau mancing. karena orang baru(3 bulan masih termasuk kriteria baru bukan, he he …) maka aku ga tau siapa dia.kami juga tidak berusaha untuk bertegur sapa. tapi yang menyengatku bukan itu. seorang bunda tergopoh di belakangnya. berhenti di depan pintu rumah (rumah di komplek kami ga berpagar). memandang penuh cinta. dan berteriak “jangan nyetir sambil sms ya sayang”. anak muda itu menatap tanpa ekspresi, kemudian berlalu dengan mobilnya. wanita paruh baya itu pun menghilang di balik pintu rumah. aku membayangkan diriku sekitar sepuluh tahun ke depan. Boo.. !! Halloween sudah lewat, tapi tiba2 aku merasa dikagetin dan ditakutin oleh kejadian barusan. aku berbelok kerumah, membangunkan fara dan anggas untuk naik sepeda bareng. jelas, ada temali yang harus aku cicil simpulnya sejak sekarang…

Wednesday, October 29, 2008

surat kepada seorang teman

Yth. Pak SBY, saya adalah seorang ibu berusia 35 tahun yang bekerja di sebuah bank pemerintah. Terlalu muluk bagi saya untuk ikut memikirkan bangsa dan negara kita. Tetapi di penghujung tahun 2006 ini, entah kenapa saya benar-benar ingin mencurahkan isi hati dan keprihatinan saya sebagai warga negara Indonesia . Tidak tahu saya, apalagi yang bisa saya banggakan dari bangsa kita. Persada yang indah dengan kekayaan alam yang melimpah? Penduduk yang ramah dan murah senyum? Bah! Di negara lain banyak tempat yang walaupun mungkin kalah indah namun jauh lebih terawat, penduduknya walaupun tidak suka senyum tetapi gemar menolong tanpa ekspektasi apa pun kecuali rasa tulus. Memang betul, siapalah saya? Tetapi hanya duduk manis membiarkan semua terjadi tanpa kontribusi apa-apa, rasanya gerah juga. Apalagi dalam agama saya diajarkan, do something. Paling bagus dengan perbuatan, kalau tidak berani dengan ucapan, atau minimal dengan doa dalam hati.

Semua orang mengeluh malu karena Indonesia dalam daftar negara paling korup selalu menempati peringkat atas. Kurang jelas bagi saya kriteria apa yang digunakan masing-masing lembaga pemeringkat tersebut, namun yang muncul dalam benak rata-rata orang setiap kali membicarakan topik ini pasti tudingan kepada pejabat penyelenggara pemerintahan. Benarkah? Corrupt dalam bahasa Inggris diartikan sebagai kecurangan, penyalahgunaan, perbuatan yang jahat, buruk, rusak. Jadi, bukan hanya pejabat ‘ kan , yang bisa korup. Warga negara biasa pun bisa korup. Apa jadinya kalau hampir seluruh warga negara kita berbuat korup dalam kesehariannya? That’s it. Masyarakat yang korup. Dan ini, percaya atau tidak, luar biasa mengerikan. Kata orang bijak, jangan menuding orang lain, tuding dulu diri kita sendiri.. Saya tidak akan memotret masalah yang rumit-rumit Pak, sebab saya tahu Bapak sudah punya pembantu yang digaji tinggi untuk memeras otak memikirkan solusi yang breaking through. Saya ajak Bapak melihat beberapa potret kehidupan di sekeliling kita, dari kacamata saya sebagai seorang ibu.

Setiap pulang sekolah saya periksa apa yang dipelajari anak saya yang duduk di kelas dua sekolah dasar negeri. Kebanyakan hanya menyalin dari buku cetak, atau menyalin dari papan tulis. Mau jadi apa anak-anak kita? Sangat jarang kita temui guru yang meresapi apa sebenarnya tujuan kurikulum yang telah ditetapkan dan bertanggung jawab akan hasil didikannya. Tidak bisa disalahkan, karena dengan penghasilan minim, mereka harus menghemat energi untuk mengajar di lebih dari satu sekolah. Perkecualian bagi sekolah swasta favorit yang uang masuknya saja membuat mulut ternganga. Memang benar, ada harga, ada rupa. Di mana-mana, kemudahan hanya milik orang berpunya. Ini baru di sekolah dasar. Pikiran saya lantas menerawang pada kejadian satu dasawarsa lampau, setelah menyelesaikan Strata 2 dan baru satu tahun bekerja, dua kali saya mendapat surat penawaran dari sebuah lembaga. Yang pertama untuk mendapat gelar Doktor dengan bimbingan selama 3 bulan saja dan menyetor biaya tidak lebih dari Rp 3 juta. Yang kedua, more surprising, “penganugrahan gelar Doctoris Honoris Causa atas kiprah dan pengabdian dalam pembangunan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat” hanya dengan kontribusi minimal Rp 1 juta di sebuah hotel berbintang di Jakarta. So sweet. Saat itu selama berminggu-minggu saya menebak-nebak apa yang telah saya lakukan untuk “membangun perekonomian dan kesejahteraan masyarakat” dalam jangka waktu kurang dari satu tahun sehingga berhak menyandang gelar yang sangat terhormat tersebut? Saya kira praktek-praktek seperti yang dilakukan lembaga ini, berdagang gelar, sampai saat ini masih ada. Dan bagi para status seekers yang menganut budaya instant serta merasa pencantuman gelar di kartu namanya akan membawa prestige effect, tawaran dari lembaga-lembaga seperti saya sebutkan tadi bagaikan opportunity knocks on their door.

Sekali lagi, sekarang apa sih yang priceless? Money can buy everything. Praktek Dokter yang laris pasti perawat yang mengatur antrian pasien-nya galak. Tapi selalu saja ada pasien yang baru mengantri tiba-tiba sudah dilayani terlebih dahulu plus senyuman manis dari si perawat karena sebelumnya kasak-kusuk sambil tangannya terampil memasukkan lembaran I Gusti Ngurah Rai ke saku seragam putih yang dibuat besar-besar. Ini sekaligus menggambarkan budaya antri kita yang payah banget! Di tempat umum mana pun di Indonesia, mengantri bergerombol untuk kemudian tiba-tiba membuat line baru sudah hal biasa. Atau bagi yang wanita tersenyum-senyum innocent kemudian menyelip dalam barisan terdepan. Budaya antri kita ini sama payahnya dengan budaya bersih dan budaya me-maintain fasilitas umum. Toilet umum, halte bis, terminal, stasiun kereta api, jembatan penyeberangan, taman kota , pasar, hanya terawat pada triwulan pertama setelah pembangunannya. Selanjutnya sudah dapat ditebak nasibnya.

Sedih! Hanya itu yang bisa menggambarkan perasaan saya sebagai seorang ibu. Saat anak-anak saya masih kecil seperti sekarang, atmosphere di mana mereka tumbuh sudah sedemikian rusak. Bagaimana dengan lima , sepuluh, lima belas, dua puluh tahun mendatang pada saat mereka harus menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab terhadap keluarganya kelak?

Saya yakin, urusan politik, ekonomi, sosial, budaya, kita punya pakar-pakarnya! Kita tidak lebih bodoh dari bangsa lain di negara maju. Kalau bangsa lain bisa, kenapa kita tidak? Namun jangan jauh-jauh, satu hal kecil yang harus dibenahi, hilangkan perilaku korup dalam segala bentuknya. Bukan hanya oleh pejabat tetapi seluruh warga negara. Dan itu harus mendapat prioritas, S-E-G-E-R-A. Mungkin saking tingginya stadium penyakit kebejatan mental kita karena bertahun-tahun tidak diobati, kalau perlu dilakukan melalui shock therapy, why not? Dapat dipastikan pada awalnya akan berjatuhan korban-korban yang tak mungkin tak berdosa alias memang sudah sepantasnya mendapat punishment.

Memang tidak mudah dan banyak kendala besar yang menghadang. Sanggupkah kita satu suara, menyatukan tekad untuk menegakkan komitmen pemberantasan perilaku korup dalam kehidupan masyarakat, selama-lamanya? Wah, ini yang saya tidak bisa jamin. Sebab orang Indonesia , Pak SBY, benar-benar hebat dalam urusan mengingkari komitmen. Jadi segala kebijakan benar-benar tidak boleh hangat-hangat tahi ayam. Bahkan mungkin lebih mengena bila secara gradual segala bentuk sanksi terhadap pelanggaran aturan ditingkatkan. Misalnya untuk pelanggaran peraturan lalin penggunaan safety belt pada kendaraan Bukan dalam tahun pertama denda pelanggaran Rp 1 juta kemudian tahun berikutnya semua menjadi “tahu sama tahu”. Tetapi diawali dengan denda Rp 100 ribu dan terus meningkat pada tahun-tahun berikutnya hingga dianggap efektif. Saya tahu hanya segelintir orang - but thank god ternyata masih ada – yang mengamini saya. Buktinya masih ada anggota DPR yang mengembalikan pembagian uang yang mereka anggap bukan haknya. Namun tak urung sering saya bertanya-tanya, ada berapa banyak orang seperti itu? Satu banding sepuluh? Non-sense. Satu banding seratus? Atau satu banding seribu? Karena kata orang, dalam komunitas orang-orang gila, orang yang waras malah dianggap gila.

Contoh kecilnya, Ibu saya sendiri yang sudha lansia masih selalu memberi “uang terima kasih di muka” untuk petugas kesehatan setiap kali kontrol ke rumah sakit umum dengan fasilitas Askes agar dapat “menyalip” pada antrian yang panjang. Hari gini….. komentar ibu saya, kalau kita tidak ikut arus yang mati sendiri. Nah, susah kalau sudah begini. Persis di depan kantor tempat saya bekerja terdapat areal trotoar yang pada sore hingga malam hari digunakan oleh pedagang kaki lima untuk berjualan makanan. Pada siang hari sangat jelas mencolok mata bergelantungan kabel-kabel milik mereka dari kabel tiang listrik resmi di depan kantor. Mencuri listrik? Mau bagaimana lagi? Hitungannya lebih murah menyuap oknum daripada membayar listrik secara resmi ke negara. Pedagang satu bisa jual murah karena bisa meminimalkan cost, masa pedagang lain tidak ikut? Yang saya takutkan sebagai seorang istri, setelah Aa Gym dan Pak Zaenal Ma’arif, jangan-jangan fenomena poligami nantinya juga akan mengarah ke sana . Apabila kesalahan dilakukan rame-rame, tidak ada lagi budaya malu melakukannya.

Kalau begitu, Pak SBY, kita cari penyebabnya. Orang-orang mengais rezeki dengan jalan tidak halal, karena anak istrinya di rumah menjerit-jerit kelaparan. Setiap hari dalam perjalanan berangkat dan pulang kantor saya tangkap wajah-wajah lelah yang merenung sedih. Tukang beca di pinggir jalan, pedagang rokok kaki lima , penjual koran di lampu merah, melamun memikirkan cara memperoleh uang sekolah anaknya, atau hutang kebutuhan pokok yang semakin membangkak tanpa mereka punya bayangan harus membayar dengan apa. They have their reasons, Pak. Semuanya bermuara pada rendahnya tingkat kesejahteraan. Tidak cukup lapangan pekerjaan yang tersedia untuk mereka. Bahkan upah bagi yang sudah bekerja pun tidak mencukupi kebutuhan mendasar setiap bulannya. Lalu salahkah mereka jika kemudian mencari makan dengan cara yang korup, demi menyambung nafas hidup keluarganya? Pusing ya Pak. Seperti memperdebatkan telur dulu atau ayam dulu. Dituntut untuk berperilaku tidak korup, nyatanya kebutuhan perut lebih mendesak. Sedang untuk meningkatkan kesejahteraan, semua harus berawal dari perilaku yang tidak korup. Sementara itu dari laporan media ternyata tingkat pertumbuhan/kelahiran di Indonesia kembali menunjukkan peningkatan. Terlalu banyak penduduk, terlalu banyak mulut yang membutuhkan suapan nasi. “Syukurlah” Pak, orang Indonesia amat sangat kreatif. And they did pretty well this far. Apapun bisa menjadi uang. Di pintu keluar tol Porong pasca musibah Lapindo, Bapak bisa temukan banyak Ayah-ayah yang menawarkan jasa menjadi petunjuk jalan melalui jalur alternatif agar tidak terjebak macet (Sengaja saya sebut Ayah supaya Bapak ingat mereka berbuat begitu untuk bisa pulang ke anaknya di rumah dengan membawa uang). Di kantor polisi untuk mengurus perpanjangan SIM, calo-calo bukan hanya melayani bantuan perpanjangan SIM namun juga pembuatan KTP palsu seharga Rp 75.000,- Mereka punya captive market karena orang pun malas berlama-lama mengurus perpanjangan SIM karena prosedurnya yang sengaja dibuat berbelit-belit. Saya jadi ingat sewaktu berwisata ke Uluwatu, Bali , di mana seekor monyet yang berkeliaran di sekitar pura merampas kacamata suami saya dan membawanya lari dari pohon ke pohon. Setelah diberi kacang, dia tidak mengembalikan kacamata tersebut kepada suami saya namun kacamata tersebut berpindah tangan dari satu monyet ke monyet lain sehingga akhirnya satu kelompok monyet tersebut kebagian kacang semua. Inilah solidaritas berbagi rezeki ala monyet. Apakah di kantor polisi ada juga solidaritas semacam itu? Ups. I didn’t say any words!

Lalu bagaimana dengan pejabat yang korup atau sering dijuluki oknum? Yang hidupnya sudah jauh berkecukupan namun masih saja mencari celah mendapatkan fulus bahkan dengan menindas orang lain. Politikus, pengusaha, LSM, bullshit kalau mereka bilang mengutamakan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi. Karena manusia Pak, jauh di lubuk hatinya punya sifat dasar tamak. Coba tanyakan pada rakyat biasa untuk dijawab dengan jujur. Seandainya menjadi anggota DPR dan ditawari studi banding beramai-ramai ke luar negeri, apakah mereka yakin akan menolak? You’ll miss out a lot of fun …. Masyarakat bisa menuding pejabat karena mereka tidak punya peluang berbuat korup. Intinya, seandainya ada peluang, kalau hanya bermain korup kecil-kecilan saja, masa sih tidak mau? Jadi kalau yang satu ini saya rasa kita harus kembali ke hati nurani dan pertimbangan moral menurut ajaran agama masing-masing.

Mungkin banyak yang mencibir dan menganggap saya terlalu berlebihan. Namun masyarakat yang berperilaku korup ini, menurut saya merupakan sumber dari segala carut-marut persoalan bangsa kita, sejak bertahun-tahun, sampai saat ini, dan apabila tidak ada seorangpun yang peduli, akan berlangsung terus hingga tahun-tahun ke depan. Menggerogoti asset serta competitive advantage yang kita miliki. Musibah bencana alam di mana-mana di seluruh penjuru tanah air. Apakah murni kehendak Tuhan bukan campur tangan-tangan kotor kita yang berperilaku korup terhadap alam?

Namun sayangnya, sungguh mati saya sendiri tidak tahu dari mana kita harus mulai berbenah. That’s the way we’ve been brought up. Sekali lagi siapalah saya, yang memohon agar semua saudara setanah air mengubah kebiasaan dan perilakunya? Oleh karena itu Pak SBY, saya hanya bisa berharap, there is somebody who’s got power, memulainya. Kalau yang sudah bangkotan ini sulit disulap untuk terlahir kembali atau cuci otak menjadi seorang warga negara yang bersih dari tingkah laku korup, maka tolong Pak SBY, selamatkan generasi mendatang kita. Tidak main-main, untuk yang satu ini dibutuhkan modal ekstra besar. Energi. Keberanian. Kerja keras. Optimistik. Serta yang terpenting, seseorang yang memulainya dan komitmen bersama. Kalau bangsa lain bisa, kenapa kita tidak? Salah satu alasan mengapa saya tulis surat ini untuk Pak SBY adalah, karena “Bersama Kita Bisa” menjadi satu kalimat sakti yang Bapak yakini dan saya percayai pada Pemilu lalu. Kepada siapa lagi saya harus curhat? Apakah kepada Tuhan seperti yang dilakukan aktivis lingkungan di Malang beberapa waktu lalu?

Saya jamin apabila pembenahan dari hal-hal sepele ini sudah berjalan, niscaya seluruh sektor lainnya akan mengikuti. A small move, for a big step forward. Well, tentu saja it takes time. Tapi kalau tidak dimulai, kapan kita akan mencapai semua impian kita? It’s about time. Sementara negara-negara lain sudah berpacu untuk menjadi yang terbaik, kita bukan hanya tertinggal nun di belakang tetapi bahkan tidak memenuhi kualifikasi untuk ikut berpacu. Sumber daya manusia yang tidak korup kuncinya. Sebab assets make things possible, people makes things happen.Entah di tahun berapa, pada kepemimpinan presiden siapa, saya akan terbangun di pagi hari dan bersyukur dengan sepenuh hati bahwa saya adalah manusia Indonesia . At least I still have that dream, Sir. Mudah-mudahan tidak menjadi mimpi yang berkepanjangan tanpa realisasi. Cape deh ! Tapi jangan kuatir Pak, saya tahu betul penonton sepak bola sering jauh lebih pintar (komentar) dari pemainnya. Didera begitu banyak persoalan bangsa, saya berdoa Bapak tetap sabar dan diberi kekuatan. Dengan beragam masalah dan mental SDM yang sedemikan bobroknya, Presiden Indonesia , siapa pun orangnya, menanggung pekerjaan terberat di dunia. I’ll stand by you.

Sunday, October 26, 2008

anak hamster dan anakku

Anggas anakku... dia punya sepasang hamster dan beranak lima ekor ...
diberinya nama anak2 hamster itu sesuai warna bulunya : kopi, susu, mocha, coklat, dan ..... teh tawar (hmmm.... ini krn srg dgr Yangti pesen minuman itu kalo pas ke rumah makan ... he he ..)
krn anak2 hamster tu skrg dah gede tp masih nyusu aja ke emaknya (jangankan hamster, manusia aja dah gede masih hobi 'nyusu' ya ... huakakak ...) sehingga emaknya jadi kurus banget, maka seminggu yl mrk kami pisahkan di kandang yg berbeda ama induknya ...
mula2 induknya keliatan bingung kehilangan 5 anaknya dan anak2nya juga berdiri terus di dekat teralis kandang sambil teriak2 (pake bhs hamster, tentunya) ke kandang sebelah tempat emaknya ...
tapi dlm bbrp hari semua menjadi biasa ... emaknya tenang2 di kandang satu, anak2nya juga bermain, maem, bobo secara mandiri di kandang sebelahnya....
aku ngeliatnya mirip anak2ku ... hiks ...
aku menjadi tbiasa plg larut dr kantor ...
anak2ku sudah merasa safe bersama Yangtinya ....
kadang aku ajak bobo di kamar atas bareng aku pun mereka lbh milih di kamar bawah bersama Yangtinya ....
sedih ga sih ....
tp bagaimanapun... ketakutanku mjd seorang perempuan tanpa penghasilan tetap yang bergantung pada suami, masih lebih gede dari keinginan liarku utk brenti kerja dan menikmati hidup sbg housewife ...

Tuesday, October 21, 2008

will you do the babysitting 4 my kids, mom... ?

It was Fara who asked me dan ... fyuh... bikin aku tercenung...
"Ma, apa kalo Fara besar besok, Fara akan kerja cari uang kayak Mama ?"
"Waktu Fara kerja itu, apa Mama sudah berhenti kerja?"
"Apa Mama akan seperti Yangti sekarang ?"
"Ada nggak ya, waktu Mama untuk jagain anak2 Fara selama Fara kerja nantinya ?"
Oh, Fara anakku. Sudah menyadari betapa sedikit waktu Mamanya untuknya dan adiknya. Sudah mengerti benar apa arti seorang Yangti di samping mereka kala Mama ga di rumah (dan Mama tau, 'waktu Mama ga di rumah' sungguh2 ga terhitung saking banyaknya ya Sayang ... huff ...). Sudah ada rasa cemas apakah dia akan jadi kayak mamanya juga yang kudu selalu berkelahi dengan waktu. Sudah memikirkan dan menegokan yang terbaik untuk anak2nya kelak.
Oh, honey bunny, sweety, crunchy.... I'll be everything you need ...

Saturday, October 18, 2008

Fara bikin blog

BSD, 03.10.2008
Finally, my little cute stubborn angel has her own blog. Instead of ‘my mom, my hero’, the first thing she wrote was ‘I hate my mom’ .. he he ..