Showing posts with label my green aliens. Show all posts
Showing posts with label my green aliens. Show all posts

Sunday, March 15, 2009

Arsene ... Ketika upaya fortifikasi menjadi sedikit lebay ...

Everything could happen the day we went to watch Java Jazz.
“Itu Top-Score?”
“Hmm.. ini Kompas.”
“Oh, saya kira Top Score.”
“Boleh saya lihat ?”
“Oh, maaf ini Kompas lama, hari Jumat kemarin.”

Tiba2 aku mengutuk kebiasaanku membawa2 pending Kompas ke mana2. Malu-maluin aja.
“Kamu mau ke mana ?”
“Senayan.”
“Kamu bisa berbahasa Inggris?”
“Nggak banyak.”
“Saya kira kamu bisa, karena di sana tulisan berbahasa inggris.”
“Hmm. Ini hanya jadual pertunjukan.”
Pandangannya bertanya. Aku memasukkan schedule java jazz ke dalam tasku. Hhh, males banget ngejelasinnya.
“Saya mau nonton java jazz.”
“Oh, kalau saya lebih suka Blues.”
“Kamu tinggal di sekitar sini ?”
Aku menyebutkan nama perumahan tempat aku tinggal.
“Saya belum pernah dengar.”
Hmm lagi. Plus senyum seadanya. What do you expect ?
Hening. Jadi nggak enak juga pasif mulu gini.
“Kamu dari mana ? Bahasa Indonesiamu cukup lancar.”
Bohong banget. Dari tadi aku harus pakai penuh kapasitas terpasang kupingku untuk menangkap bahasa Indonesianya yang patah-patah.
Dia tersenyum.
“Sudah satu tahun saya di Indonesia. Saya bermain untuk klub di Wamena. Tapi saya pulang pergi Jakarta-Wamena.”
“Saya tinggal di Perancis. Ibu saya dari Perancis, Ayah saya dari Kamerun.”
“Sudah berapa tahun bermain bola ?
“Umur saya ? 24 tahun.”
Selamat datang kesenjangan bahasa. Please deh. Siapa juga yang nanya umur.
“Sebelum di Indonesia, di mana ?”
“Singapore. Saya sempat main di Singapore.”
Hening lagi. Dia bergoyang-goyang mengikuti irama entah apa dari headset di telinganya.
“Pertunjukan musik itu, di Senayan ?”
“Yup.”
“Sudah menikah?”
“Yup.”
Bergoyang-goyang lagi.
“Maaf, tapi suami kamu biasa membiarkan kamu pergi sendirian ?”
Sungguh menyebalkan.
“Suami saya tidak tinggal satu kota. Saya bertemu teman di Senayan. Kami akan pergi bersama menonton pertunjukan itu.”
“Oh, I see.”
“Maaf, kalau saya jadi suami kamu, saya tidak akan membiarkan perempuan secantik kamu pergi sendirian. Perempuan itu seharusnya disayang..”
Buseeeet. Berapa menit sih kami bercakap-cakap ? Kok berani-beraninya mengkritik suami orang. Here we go. Aku bersiap-siap mendengar kalimat-kalimat yang menjurus, dan bersiap-siap memutuskan pembicaraan kalau dia mulai ga sopan atau masuk ke gombal session.
Aku ketawa garing. Tapi dia ga melanjutkan apa-apa. Ekspresi wajahnya datar2 aja. Beberapa lama kami tidak berkata-kata. Aku mengambil Kompas Jumat-ku dan mulai membacanya, tapi sebenarnya yang aku lakukan adalah mulai berpikir bahwa mungkin ungkapannya itu jujur (especially about 'cantik' tadi, alamaaak ... rada tersanjung juga nih aku wekekekek...). Dan budayanya membolehkan dia berbicara terbuka kepada siapa pun.
Ponselnya bergetar. Dia menerima panggilan dan berbicara tentang tiket pesawat, jadual dan semacamnya.
“Ini sekretaris klub kami. Saya sudah diminta pulang.”
“Bagaimana di Papua ? Biaya hidup mahal ya ?
Basa-basi banget.
“Kamu sering jalan-jalan ?”
Aku teringat seorang teman yang sekitar 15 tahun lalu mengajak ke Papua, yang dulu masih kami sebut Irian, untuk melihat keindahan alamnya yang mempesona.
“Dulu saya sempat ingin ke Papua. Tapi belum jadi sampai sekarang.”
“Saya tidak suka perjalanan ke sana. Lama sekali. Bisa 6 jam. Kalau cuaca bagus, tidak terlalu terasa. Kalau cuaca buruk, aarrrgh…”
Ia menirukan badan pesawat yang turun naik dengan tangannya.
“Mengerikan.”
“Kamu suka ke Bali ?”
“Hmm. Ya.”
“Bali mengingatkan saya pada kota asal saya di Perancis. Itu suatu daerah yang mirip sekali dengan Bali. Namanya ….”
Ia menyebut suatu nama yang asing di kuping. Dan well, aku juga ga tertarik untuk mengetahui lebih lanjut. Tapi sebagai respek ku, aku menggumamkannya kembali sambil mengangguk-angguk.
Ia menuliskan sesuatu di ponselnya. Kemudian menunjukkannya kepadaku sembari mengulang menyebut nama kota kesayangannya itu.
Cote d’Azur
. Hmm. aku mencoba melafalkan lagi walau aku tau ga ada kemajuan sama sekali dari gumamanku yang pertama. Hihi.
Kami mulai berbicara tentang kota tersebut, tentang karirnya di sepak bola.
Adventure seeker and curiousity about new things mode on.
“Boleh saya minta nomor telpon kamu ?”
Aku terkejut, tidak menyangka dengan permintaan itu.
Shit
. apa alasan untuk menolaknya ya.
Aku tertawa aneh. Dia terus menatapku serius sambil menggenggam ponselnya, bersiap menyimpan nomorku. Okay..okay… otakku berpikir cepat. Ga ada ruginya kasih dia nomor. Apa yang bisa dia lakukan dengan nomorku ? Paling2 teror via telepon yang aku sudah terbiasa menerimanya sejak masih imut2 dulu… hehe … Di benakku terlintas kriminalitas, sindikat perdagangan narkoba dll. Kemudian sikapnya yang santun dan kewajiban manusia Indonesia untuk bersikap ramah. Kemudian lagi, aku sebagai muslim yang tidak sepantasnya menolak permintaan seseorang untuk berteman.
“Saya missed call aja. berapa nomormu ?”
Dia menyebut nomornya. Aku menekan tombol2 di ponselku. Melakukan panggilan.
“Siapa namamu ? Namaku Arsene.”
“Yudhi.” Bahkan aku ga berniat menyamarkan namaku. Untuk apa.
Dia mengetikkan nama di ponselnya, memperlihatkannya kepadaku.
Judy
. Aku mengangguk. Nggak melakukan apa pun dengan ponselku.
“Sudah kamu simpan nama saya tadi ?”
Aku tersentak kaget. Mengangguk ragu. Hehe. Dia kembali mengetikkan sesuatu di ponselnya.
Arsene
. Aku mengangguk lagi. Tapi tetap ga melakukan apa pun.
Akhirnya kami berpisah.
Sepuluh menit kemudian.
From:
081511XXXXX
Subject:
Maaf ganggu. Tapi aku senang kenal sama kamu !
Date:
08/03/2009
Time:
2:20 pm
Hmm… dalam lima menit aku menimbang-nimbang untuk membalasnya atau tidak.
From:
081357XXXXXX
Subject:
Thx. It’s always fun 2 meet new people !
Date:
08/03/2009
Time:
2:30 pm

Tiga jam kemudian.
From:
081511XXXXX
Subject:
Sorry, masih di sana ?
Date:
08/03/2009
Time:
5:11 pm

Keesokan harinya.
From:
081511XXXXX
Subject:
Slmt pagi ! Bagaimana acara musik kemarin ?
Date:
09/03/2009
Time:
10:56 am

Tiga hari kemudian.
From:
081511XXXXX
Subject:
Slmt sore sorry ganggu. Tapi kamu baik2 saja ?
Date:
12/03/2009
Time:
6:22 pm

Arsene… Arsene … namanya mengingatkanku pada Arsenal, klub sepak bola Inggris. Aku ga pernah balas sms nya lagi. Cukup sudah aku membalas sms-nya yang pertama, sebagai tanda bahwa aku mengconfirmnya sebagai teman. Tapi sungguh, ada yang mengganjal di hatiku. Aku merasa seperti orang yang jahat, ge er, tidak bertangung jawab atas keputusanku memberi nomor telepon kepadanya. Padahal ga ada yang salah dengan isi sms nya. Dia hanya seorang teman. Ketika kita memilih untuk memulai sebuah pertemanan, maka ada konsekuensi yang kita tanggung untuk menjaganya, tidak melakukan sesuatu yang menyakiti perasaannya, tidak membuat ia merasa dicuekin, dilukai, dilecehkan, dijauhi, unwanted dan dibuang. Intinya memperlakukan teman dengan manusiawi. Apabila dengan orang yang tidak kita kenal saja, kita berusaha bersikap baik, maka seharusnya sikap itu lebih kita tunjukkan pada orang yang kita kenal (walau hanya dalam tempo kurang dari satu jam), apalagi kalau misalnya, dengan orang yang cukup dekat dalam waktu cukup lama. Ketika status sebagai perempuan yang menikah membuatku membangun benteng-benteng, melakukan fortifikasi terhadap kehidupan perkawinanku, maka aku seharusnya berhati2 agar itu ga jadi lebay, atau menjadi episentrum yang berdampak katastropik terhadap pertemananku dengan pihak lain, tentu saja tanpa meninggalkan respect thd pasangan, ya nggak ? Hmm… Déjà vu. Rasanya aku pernah diginiin sama seorang teman deh. Seakan ada disparitas di antara kami yang membuatku not deserve treated as a friend anymore. Dan ketika kita sadar telah diperlakukan dengan ga manusiawi, sedihnya ga terkatakan bo, banget bangeeeet …. But sometimes life is unfair, so get used to it …. Arsene… Arsene … maafkan aku…

Friday, January 9, 2009

hApPY biRThDaY tO Me !!

Hari ulang tahun adalah hari istimewa buatku. Berasa menjadi seorang putri dari pukul 00.00 pagi sd 12 malam. Berhak melakukan apa pun, mendapat sikap manis dari orang-orang, seolah semua orang membentangkan red carpet ke mana pun aku melangkah, dan, believe it or not, ada rasa sedih menyapa ketika 24 jam special itu berlalu… hehe … Kayak Cinderella yang harus segera pulang dari pesta dan kembali ke dunia nyatanya. Childish banget ya, hehe ... Biarin…
Terang aja ini hari yang sama dengan kemarin atau seminggu yang lalu. Bumi berputar, matahari terbit, rutinitas berjalan, menyusuri jalan yang sama, bertemu orang yang sama, mendengar tawa yang sama, sampai matahari terbenam kembali. Bedanya, ulang tahun adalah momentum. Untuk bersyukur. Untuk evaluasi. Untuk mengamini doa dan harapan orang-orang di sekelilingku. Untuk bikin resolusi to be a better me. Cieee…
Momen lain yang mirip adalah lebaran dan tahun baru. Cuma, pada lebaran dan tahun baru aku merasa hanya jadi sebutir kacang yang brrr…. berdingin-dingin bersama jutaan butir kacang lain di atas ribuan es krim cornetto dalam lemari pendingin Walls di toko2 di seluruh pelosok dunia, atau seperti sebutir stroberi di antara puluhan stroberi yang berjejal2 di atas cheese cake ultah yang harus aku tiup lilinnya tadi siang di kantor. Sedang pada hari ulang tahun ? Rasanya bahkan Tuhan pun mengirim malaikatnya pakai DHL ke BSD untuk khusus mengamatiku dan bikin laporan kepada Nya. Tentangku. Tentang Yudhi. Isi hatinya. Mimpi2nya.
Aku bersyukur atas 37 tahunku yang penuh warna. Aku evaluasi hal-hal yang sudah aku capai, hal2 yang aku sesali dan tak kan kuulangi, hal2 yang harus aku perbaiki. Ulang tahun di 9 Januari sangat membantuku karena resolusi yang aku buat pada 1 Januari biasanya akan segera teruji selama lebih kurang seminggu. Target mana yang terlalu berat untuk dicapai akan gugur dengan sendirinya. Demikian pula komitmen yang terlalu muluk akan berkali-kali terlanggar dan terlempar keluar dari list. Dengan demikian, pada 9 Januari aku punya semangat baru untuk resolusi2 yang lebih membumi. Soal apakah sehari, seminggu, atau sebulan kemudian ada yang kembali didelete dari daftar, itu urusan belakang. hihi …
Sisi lain ulang tahun adalah ‘uji penting diri’. Seberapa special aku di mata teman, sahabat, dan kerabat. Tiap tahun aku tertakjub-takjub dengan beberapa ucapan selamat ‘baru’ dari orang-orang dekat. Dan terkaget-kaget pula dengan hilangnya beberapa ucapan selamat ‘lama’ dari segelintir mereka. Mereka datang dan pergi dari tahun ke tahun, menorehkan cerita tentang ‘hangat’ maupun ‘dingin’nya kualitas relationship kami.
Suami tercintaku. Dia selalu menjadi orang pertama yang memberiku bday greeting. Ga selalu hadir di sampingku, memang. Tapi sudah cukuplah itu buatku untuk menunjukkan seberapa special aku di hatinya. Hanya ada satu ulang tahun, di mana, seorang adik ipar iseng mengirim ucapan tepat pukul 00.00 sehingga suamiku menjadi orang kedua. Well, honey, it doesn’t change anything at all … Satu hal lagi, suamiku sering mengirim entah bunga atau tart ulang tahun ke kantor. Kadang ini bikin perasaanku campur aduk geto, antara bangga dan malu teramat sangat pada boss dan rekan2 kantor. Kayak orang lagi pacaran aja, Bo ! Mungkin juga ada yang mencibir dalam hati. Di satu sisi, ini menunjukkan sisi romantis (yang umumnya jadi dambaan setiap makhluk bernama perempuan) yang luar biasa, di sisi lain, dari sudut pandang purba sekaligus ilmiah, aku melihatnya sebagai upaya menunjukkan kepemilikannya terhadap aku, istrinya. Bila dianalogikan, ada beberapa makhluk Tuhan yang suka meninggalkan tanda, entah air liur atau air seni, pada benda2 yang diakuinya sebagai propertinya. So, the flowers may say to all : “She’s mine. Do not mess with her” … wakakaka … Anyway, Darling, I love you more and more …
Teman2 dan kerabat. Ada yang datang dengan sekedar pesan singkat di telepon selular, di arena chatting, melalui telepon, sampai datang ke rumah. ‘Kekentalan’nya pun bisa aku kategorikan, short messange service yang standar dan hanya berupa beberapa kalimat without any personal touch. Atau ‘so long message service’ dengan berbagai bunga-bunga yang kadangpun ga terlalu aku ngerti maksudnya. Atau sms yang mengena dengan nuansa non-generic. Ada yang datang ke rumah dengan tangan kosong sampai yang membawa bingkisan kado (ketahuan deh aku matre .. hehe ..). Ada yang menyertakan kartu ucapan dengan kalimat2 indah dalam bingkisannya dan ada yang sekedar mengemas kadonya agar tak tampak telanjang. Ada yang menunjukkan wajah berduka dan penyesalan sedalam-dalamnya ketika menyadari terlambat memberiku ucapan selamat, ada yang menyetel lagu ulang tahun keras-keras berulang-ulang sebagai excuse-nya, ada yang ga sengaja ‘menyenangkan hatiku dan tidak merugikanku’ dengan memudakan usiaku menjadi 36 (seperti angka lilin di kantor tadi, hehe … well, ini lebih baik daripada tidak peduli berapa usiaku hari ini. Aku senang melihat mereka yang terlambat menyadari kekeliruannya tergopoh mencari lilin dengan angka 7, berusaha memodifikasi angka 3 menjadi angka 7 (how come ? hehe …) dan setelah akhirnya it didn’t work sementara aku sudah terlanjur masuk ke ruangan ‘penganten’, mereka memiringkan angka 6 ke kanan dan memvonisnya sebagai angka ‘6 + 1’ huahahaha… To tell you the truth guyz… BSD lagi kehabisan lilin angka 7 hari ini, karena cake di rumah pun lilin 37-nya terdiri dari angka 3 plus 7 buah lilin2 kecil warnawarni … hehe … ). Ada yang terlambat ngucapin satu dua hari sesudahnya… namun satu kata maaf yang disampaikan dengan tulus saja sesungguhnya sudah meluluhlantakkan hatiku … bagaimanapun ini jauh lebih baik dari tidak sama sekali … Thx 2 all of u …
Dari sini tiap tahun aku bisa mengukur dan reappraise, berapa meter kapling yang mereka sediakan bagiku di hati mereka, dan apakah aku over value atau under value terhadap nilai kapling tersebut per meternya. Aku bisa mereposisi, di mana diriku sebagai orang dekat mereka. Tak dipungkiri itu meninggalkan rasa senang maupun sedih, yang melekat di benakku maksimal selama 365 hari ke depan. Can’t complain about that. Untungnya sebagai seekor Dori si ikan pelupa itu, batas memoriku memang paling banter ya 365 hari. Bagaimanapun aku hanyalah seorang psikopat, bukan seorang pendendam… hehehe …
Selanjutnya, tentu belajar tentang empati. Kalo ga pengen pahit makan buah pare, please jangan nyuruh orang makan daun ubi dong…. However, mengingat-ingat ulang tahun seseorang bukan hal mudah. Ini bukan seperti libur nasional yang angkanya diberi warna beda di kalender. Kita memperingatinya secara kolektif, setiap orang saling memberikan ucapan, apalagi bila disertai dengan tanggal merah, pasti kita ga bakalan lupa.. Tapi mengingat ulang tahun teman/kerabat dan memberinya atensi, menurutku adalah hal yang tergolong indah di muka bumi ini. Doesn’t need a real big effort, but means a lot ! Terlebih jika kita mengemasnya dalam bentuk yang rada2 personal.
Sms seorang senior hari ini memberiku wacana lain tentang seberapa penting diri kita bagi orang lain : “Anda hanya sepenting yang anda kerjakan. Bila anda meningkatkan nilai dari pekerjaan anda bagi orang lain, anda akan menjadi semakin penting bagi mereka” Hmm…. rasanya pernah denger quote ini sebelumnya … Mungkin somewhere via mesin pencari Google… Google never lies, does it ? But man … hanya sepenting ‘pekerjaan’ kah ? Rasanya absurd deh. I believe there are many things else… Kesamaan interest dan value misalnya, hanyalah beberapa faktor saat kita akan memilih ‘confirm’ atau ‘ignore’ atas ajakan bergabung di komunitas apapun… dan juga jadi dasar judging seberapa penting seseorang dalam komunitas dan dalam hidup kita ….
C’mon, it’s already 10th on January ! Waktu Cinderella nikmati dansa dengan pangeran telah habis…. hanya sepatunya yang tertinggal dan menjadi saksi tentang orang-orang dekatku… I have them by couple or even many years … and birthday is just one perfect day to know, who my true friends are this year ….

Friday, November 28, 2008

Persahabatan Bagai Kepompong Pt. 2 (They who will alwayz have pieces of my heart...)

There are places I remember
All my life though some have changed
Some forever not for better
Some have gone and some remain
All these places had their moments
With lovers and friends
I still can recall
Some are dead and some are living
In my life I've loved them all
……………………………………………..
Though I know I'll never lose affection

For people and things that went before
I know I'll often stop and think about them
In my life I've loved them all
(In My Life, The Beatles)

Aku selalu suka lagu2 Beatles. Dan yang satu ini, the sweetest song ever ! In my life, dari waktu ke waktu, ada beberapa nama yang mengisi hati dan hari2ku (di luar anak2 dan bapaknya anak2…). Ketika Sindentosca menyenandungkan Persahabatan Bagai Kepompong, kenangan tentang mereka berlompatan memenuhi kepalaku. So, with respect to all of you guyz (some names are nicknames - actually, most names… he he ..), this is my green aliens list (excl boyfriends, ofcourse) …. You'll always have pieces of my heart !
Is.
Waktu SD, bacaan yang ngetrend pada jamanku adalah kisah2 Lima Sekawan. Dengan temen2 SD di Maros, ketika kelas 4 tahun 82-an, aku bikin group Empat Sekawan. Anggotanya ya empat anak yang bangku duduknya deket2an di kelas. Entah siapa pemimpin gank ini, tapi aku selalu meminta temen2ku menulis inisial A4S setelah nama mereka (misalnya, pas nulisin nama di buku2 tulis)…. wuakakakak … misalnya Yudhi A4S…. semacam Ferry AFI gitu … he he … Ternyata, jaman kecil dulu pemikiranku dan sekelas Executive Producer acara Akademi Fantasi Indosiar ya … Salah satu anggota yang berkesan adalah Is A4S. Nama panjangnya Aktrisani Husni. Bokapnya pengen dia jadi seorang aktris. Bokapnya wartawan, dan kakeknya adalah agen majalah/koran satu2nya di kota kami dulu. Seingatku Is A4S ga menjadikan Yudhi A4S sebagai temen special. Biasa aja tuh. Hanya saja, dibanding anggota A4S yang lain, aku rasa dia yg paling oke (Manis, lembut, pinter, ga pernah nyakitin temen). Satunya nyontek mulu pas ulangan, satu lagi terlalu kekanak-kanakan (hehe … emang waktu itu aku udah segede apa ?). Aku malah akrab juga dan sering surat2an ama kakaknya, yang waktu itu dah di bangku es-em-pe. Dan Is adalah gadis baek hati yang ikhlas menjadi tukang pos untuk keperluan delivery surat2 kami. So, ‘kali ini persahabatan yang one way aja, muncul karena keterbatasan pilihan… he he he … Sorry Is, I still miss you, wherever you are now …
Maurin.
Ini temen depan bangku di kelas satu es-em-pe. Ketika transisi sebagai anak baru, pindahan dari sebuah kota kecil ke kota sebesar Surabaya dan masuk sekolah elit pula… ada rasa takut di hatiku. Kala itu ada seorang temen yang ulurkan tangan dan senyum menyejukkan. … Dia adalah Maurin. Yang aku inget, dia punya selembar kulit kucing lengkap dengan bulu2nya (asli!)… yang suka dia simpen di dalam kotak pensilnya. Hoiii Maurin … setelah gede ini aku baru mikir2… gimana cara kamu dapet lembaran kulit kucing itu ya ? dan adakah itu hanya salah satu dari koleksi kulit2 binatangmu yang lain ? he he … mudah2an kamu sekarang jadi aktivis WWF atau Green Peace …
Paula (bukan nama sebenernya).
Ini temen SMP, SMA, still keep in touch ‘till now. Sekelas di kelas satu dan tiga SMP. Sebangku waktu kelas satu SMA. Jadi informan andalanku tentang temen2 lawas. Selalu nyinyir dan sirik pada hal yang sama, selalu terkiwir2 ama orang yang sama … tapi ga masalah, lha kami cuma berani sebatas mengagumi kok, he he … Ketika salah satu jagoan kami akhirnya menikah dengan orang yang standar2 aja (Istilah Paula, masih keren kita, hi hi …), kami terbahak2 sepuasnya …. huakakakak (what weird girls …) Yang aku salut, dia selalu update gossip2 seputaran temen2 sekolah… That’s why ILU Paula…. he he … Alwayz !
Chippy (bukan nama sebenernya).
Temen kuliah. Anaknya baik banget, pinter banget, jago masak, orientasi selalu ke Tuhan. Perfect ! Punya banyak prinsip yang buatku agak2nya kelewat muluk… hi hi … Tapi enggak buat dia ! Karena dia bisa konsis jalanin semua prinsipnya. Bayangin, dia selalu menghitung jam tidurnya (waktu itu dibatesin 3 jam/hari) karena kuatir ntar di akherat disindirin ama malaikat apa aja yg dah dilakukan di dunia… kok banyak banget waktu tidurnya … Buset … sesuatu yang non-sense banget buat aku yang penggemar bau bantal ini… he he ..Aku ga tau sebab-musabab dia terpesona ama aku karena apa… he he … Ngakunya sih karena aku berasal dari SMA di propinsi asal nyokapnya (hmmm … kedengarannya sedikit mengada-ada ya.. he he ..). Dia selalu jemput aku naik motor pas awal2 kuliah … jaman itu belom ada kewajiban pake helm. Aku sering tidur di rumahnya, dan bokap nyokapnya yang dua2nya dedengkot UGM tu sangat welcome. Begitu kawin dia ikut suaminya ke Inggris, sekarang dia Dosen di almamater kami. Terakhir aku ketemuan waktu aku baru selesai mbangun rumah di Jogja. Chippy tetap yang dulu, si pintar yang sampe berbusa2 kalo diajak omong tentang kejiwaan … he he …
Liz (bukan nama sebenernya).
Uni ciek ko sohib dari kuliah sampe kerja. Bertahun-tahun kami ketawa dan nangis bareng. Sering punya perasaan yang sama tentang banyak hal. Semua story-ku semasa kuliah rasanya ga ada yang dia ga tau. Bedanya, dia grapyak dan semanak (dan celuthak… he he ..) banget sementara aku pendiam. Liz sekarang dah jadi Ibu Boss. Tapi dia selalu ada pada saat aku membutuhkan. Sayangnya, karena jarak dan kesibukan, sekarang kami kok hanya kontak pada saat masings ultah dan lebaran aja ya ….
Lucky (bukan nama sebenernya).
Temen KKN satu desa. Kami punya buanyaaaak kesamaan. Mulai jenis sepeda motor yang kami pake (Suzuki RC 800), kegemaran back to nature : jarang mandi (iki tmsk back to nature tho Dab !) naik kerbau, bonceng sepeda model kebalik, cari belut, hunting n maem sarang tawon…. So, kami sering bareng2 mandi, eh, mandiin sepeda motornya sembari dia ngajarin sampe detil ttg komponen2 motor yang perlu diperhatiin. Den Bagus Lucky ni Chinese, tapi boso jowo kromone mlepes bangeeeet… sehingga selalu didaulat jadi jubir kita ke para petinggi di desa kami. Setelah lulus kuliah dia gabung di WWF dan sempat berkelana ke Papua (waktu itu masih disebut Irian). Aku seneeeeeng banget dikirimi semua cerita dan foto2nya dari tanah dan laut Papua sana. Paling kecian waktu dia kena malaria dan ngakunya hampir koit pas hari ultahnya. Rasanya aku masih simpen lukisan potret diri-ku dg pensil yang dia bikin pas di Papua deh … gila, mirip banget ! Hmm.. ada yang bilang dia putus ama pacarnya pas KKN gara2 aku, tapi aku ga pernah percaya itu ! He’s my really really best friend, always has, always now, n always will ! Balik ke Jogja, tampaknya dia bergabung ama LIPI dan dapet beasiswa, entah di UK atau di tanah para highlander yang immortal, Scotland. Aku sempat kontak lewat email dan dia bilang dia dapet seorang Xena di Scotland sana … Terakhir aku tau dia muncul jadi narasumber tentang toxic di Tabloid Nakita. Kapan itu, aku bongkar2 dokumen dan nemu nomor telepon rumahnya di Jogja. Aku bicara sama ibunya, dapet info dia dah punya satu yunior, tapi ga berhasil dapet nomor yang bisa aku kontak. Lucky….. kangen nih … where rrrrrr uuuuu ?
Day (bukan nama sebenernya).
Temen kos2an di Jogja. Paling bandel, mblakrak, tapi sangat sangat tulus dan menyenangkan sebagai teman. Phobia ama segala sesuatu tentang buah Salak (mulai, buah, biji, apalagi kulitnya)… untungnya ga kena kutuk dapet mertua juragan kebon salak he he … Body peragawati, jangkung, trepes, dengan kuping caplang kebanggaannya, dan mulut dengan posisi standby ngowoh… secara keseluruhan sih tetep manis .. hi hi … Gatel, gonta-ganti pacar, tapi kalo dah diputusin nangis tersedu2. Kalo pacaran hobinya sampe after midnite. Udah tu seneng banget melihara sifat pelupa bawa kunci gerbang kos2an, so selalu ngrepotin temen yang kudu terkantuk2 bukain pintu di malam buta (jaman dulu belom ada hp lagi, bayangin !). Kalo ga ada yang bukain ya manjat pagar dengan rok jins mininya itu. Bangun tidur pasti kesiangan. Kalo ada yang pagi2 berangkat kuliah lari2, teriak2, buru2 tabrak sana-sini dengan muka kadang masih ada bekas ilernya , itu nggak salah lagi pasti Mbak Day ! Seneng banget bisa kontak dia lagi setelah aku pindah ke Tangerang ini. Sialnya, waktu aku kontak dia, ingatannya tentangku adalah ‘seorang gadis penggemar film BF’ … Kurang ajar ! Padahal aku hanya penyedia sarana (kamar + computer + snack bola2 coklat kegemaran kami)… sementara yang memasok CD-nya ya dia itu …he he … Yang bikin bangga, ternyata dia sekarang jadi Jaksa Pengacara Negara dan emak dari 2 anak …. (Rasanya mustahil sih kalo inget sifat2 mengerikan dia dulu .. hi hi …) Tapi Mbak Day masih seperti yang dulu, begitu kontak aku langsung ngabisin satu jam buat ngerumpiin ibu mertuanya… wakakakak …
Rihana (bukan nama sebenernya).
Ini temen kantor di Bandung. Sering saling curhat masalah2 anak dan keluarga. Tauladan buat semua Ibu. Rasanya ga pernah bikin setitik dosa pun. Kami dekat sampe ke suami dan anak dan ortu masings, sering tukar2an kado kalo anak kita ultah. Kalo pas tinggal di Bandung ni akumulasi dosaku agak rendah, it’s all because of you, Rihana …
/Riff (bukan nama sebenernya).
Ini juga temen kantor. Tepatnya Boss. Teman berantem tentang film dan puisi. Sering kagum ama keindahan yang sama. Berani marahin (ya iyalaaah, orang boss kok … he he ..). Suka ngatain, nyindir, nyinyir, saru, kadang amat sangat menyebalkan. Tapi sering nyadarin banyak hal yang orang lain ga mau ngomong. A good listener. Aku berteman sampe ke bojo2nya. Thing I really thank to him is, he gives me another green alien ! Jadi kayak ‘buy one get one free’ deh … he he … don’t take it to heart pren, eh, bozz … dasar anak buah rada suka ngelunjak …
Vie (bukan nama sebenernya).
Temen berlinangan dan cengengesan. Temen berbagi stress, dongkol, rahasia perempuan, geer-geer yang ga bertanggung jawab sampai kisah2 paling wagu atau memalukan di seluruh dunia. She’s the one who accompany me doing any girly naughty activities ... escape from any office or household routinity ... sharing old love stories, laughing at ‘jorse’ jokes, do the ‘ngrasani wong’ … Vie adalah bu guru yang kasih resep gimana melayani suami dari melek di pagi hari sampai merem melek di malam hari … he he … Dia adalah sekotak tissue yang bisa keringkan air mataku ketika hatiku berkeping-keping dimarahin ibuku dan ketika kangenku menggunung pada suamiku. Dia juga temen cekikikan ngomong jorok, temen asik ngrasani orang-orang dan (maaf, tapi ini the best part hi hi …) suami, dan temen bernostalgia seru inget2 kejayaan pacaran jaman muda dulu… Vie... always be there 4 me ya ...

Dari film Stardust :

Ketika Yvaine bertanya pada Tristan, mau nggak jadi immortal ? Dijawab : "I can't imagine how lonely to be immortal if I have no one to share with me.."


Wednesday, November 26, 2008

Persahabatan Bagai Kepompong

Dulu kita sahabat
Dengan begitu hangat
Mengalahkan sinar mentari

Dulu kita sahabat
Berteman bagai ulat
Berharap jadi kupu-kupu

Kini kita berjalan berjauh-jauhan
Kau jauhi diriku karena sesuatu
Mungkin ku terlalu bertindak kejauhan
Namun itu karena ku sayang

Persahabatan bagai kepompong
Mengubah ulat menjadi kupu-kupu
Persahabatan bagai kepompong
Hal yang tak mudah berubah jadi indah
Persahabatan bagai kepompong
Maklumi teman hadapi perbedaan
(Sindentosca)

Monday, October 27, 2008

a thanks to a never ending friend

Thanks fren, atas semua yang aku dapat
Untuk ketawa dan nangis bareng
Untuk jadi keping2 puzzle yang lengkapi gambar hidupku

Thanks for just being there
to be the first person I always turn to
for lending a supportive ear

Thanks untuk menjadi teman perjalanan dan teman belajar bersama
tempatku berbagi,
rasa syukur dalam kebahagiaan,
sabar dalam kesedihan,
dan pasrah dalam menerima
pergiliran keduanya.

Thanks untuk temani aku hang out and have fun
Thanks to allow me a safe space to share my deepest dark thoughts and secrets and fears

without worry of being judged, criticized or made to feel silly for feeling the way I do
to all talk about nothin…….

Thanks to walk beside me
To accept me just the way I am (sesuai ambang batasku ….)

To understand even my silence and my smiles
Forgive my mistakes

Give unconditionally
Offer support, quiet my fear, raise my spirit
Make a difference in my life

Thanks to ‘slenthik’ kupingku
Say not just nice things about me
Tell me the truth when I need to hear it
Yell when I won't listen and
Bring me back to reality

Friendship is one of the most beautiful relationships on earth
But like money, it’s easier made than kept
May we always be "good fellas"

and may our friendship be the kind that never ends...

Teman, inginnya aku bisa seasik ini buatmu...

Aku bukanlah bulan, bintang, ataupun mentari
Aku adalah lampu, bila ada listrik
Petromaks, bila ada minyak
Senter, bila ada baterei
Lilin, bila ada api
Apapun aku, kan kutemani dirimu dalam kesendirian gelap

about friendship

bagiku, dari dulu hingga kini, menemukan seorang sahabat rasanya sama seperti ketika engkau terdampar di sebuah planet dan kau sadar bahwa penghuninya adalah makhluk yang berwarna kulit sama ijonya dengan warna kulitmu dan memakan tanaman yang sama dengan tanaman yang biasa kau kunyah. You just know it, she or he is the one !
(ajatasatru)

Tuesday, October 21, 2008

5 + 2

cuti lebaran 2008. 2 minggu, hmm cukup panjang. seorang teman mengirimiku paket. dua buah buku resep masakan. plus 5 keping CD BF. atau kebalik. tepatnya, 5 keping CD BF. plus 2 buah buku resep masakan. padahal aku tau dia lagi sibuk banget di sana. thx honey, untuk prioritaskan aku. paket itu. sungguh a perfect way untuk ngelewatin malem2 panjang saat cuti. dan dirimu, teman. sungguh a perfect gift God has sent to me...